Penghasilan dan Faktor Pendukungnya
Penghasilan dan Faktor Pendukungnya
Oleh: Safir Senduk
Dikutip dari detikcom
Bila pada saat ini Anda bekerja, apakah Anda sering merasa tidak puas
dengan penghasilan yang Anda dapatkan? Padahal, Anda merasa sudah
berbuat banyak di pekerjaan Anda. Pertanyaannya sekarang, layakkah bila
Anda merasa tidak puas?
Dua orang manajer yang bekerja di lain perusahaan tetapi sama
pekerjaannya, bisa saja memiliki penghasilan yang berbeda. Kadang, ini
memicu rasa ketidakpuasan dari manajer yang berpenghasilan lebih kecil.
Akibatnya jelas, mutu pekerjaan mungkin jadi merosot.
Dan jangan lupa, penghasilan yang Anda dapatkan pada dasarnya akan
mempengaruhi Standar Hidup Anda.
Apa sebetulnya hal-hal yang mempengaruhi besar kecilnya penghasilan yang
diterima seseorang? Sebetulnya ada beberapa. Namun demikian, hal
tersebut biasanya berkaitan langsung dengan pendidikan yang pernah
ditempuh, pekerjaan yang dia jalani, berapa umurnya pada saat ini,
berapa besar hartanya, dan bahkan dimana tempat tinggalnya.
Pendidikan
Statistik menunjukkan, orang yang menempuh pendidikan lebih tinggi
cenderung menghasilkan lebih banyak uang daripada mereka yang tidak. Ini
seringkali membutakan, mata masyarakat yang akhirnya cenderung
menganggap bahwa seseorang tidak akan mendapatkan penghasilan tinggi
sebelum mereka menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Ini tentu saja
merupakan mitos yang salah.
Yang benar adalah pendidikan yang tinggi bisa membantu seseorang untuk
mendapatkan penghasilan yang lebih besar, meski hal itu bukan
satu-satunya jaminan. Kita banyak melihat para wiraswastawan yang tidak
lulus pendidikan tinggi bisa mendapatkan penghasilan yang besar. Namun
demikian, kebanyakan dari mereka yang memiliki pendidikan tinggi
biasanya berpenghasilan lebih besar.
Pekerjaan
Penghasilan seseorang juga berkait erat dengan pekerjaan yang dia
lakukan. Disinilah kita mengenal istilah white collar worker dengan blue
collar worker. Pekerja kerah putih (mereka yang lebih banyak menggunakan
pikirannya dalam bekerja) biasanya menghasilkan lebih banyak uang
daripada mereka yang berkerah biru (mereka yang lebih banyak menggunakan
tenaganya).
Umur
Penghasilan seseorang juga berkait erat dengan umurnya. Mereka yang
masih berumur 25 tahun ke bawah cenderung berpenghasilan lebih rendah
daripada mereka yang sudah berumur di atas 25 tahun, bahkan di atas 35
tahun. Semakin tua umur seseorang, biasanya penghasilannya akan menjadi
lebih tinggi. Ini masuk akal mengingat pengalaman seseorang dalam satu
bidang, apabila ditekuni dari tahun ke tahun akan membuat pengalamannya
bertambah, sehingga penghasilannya juga akan semakin bertambah.
Harta
Penghasilan seseorang pada dasarnya didapat dari upah dan juga hasil
investasi. Upah terdiri atas honor dan gaji, yang didapat seseorang
karena jasa atau pekerjaan yang dia lakukan. Tetapi penghasilan yang
kedua, adalah penghasilan yang didapat dari hasil investasi. Misal,
seseorang memiliki harta berupa uang tunai Rp 100 juta. Bila uang ini
diinvestasikan, akan memberikan penghasilan bunga yang rutin setiap
bulannya.
Semakin besar harta yang dia miliki, semakin besar pula penghasilan
bunganya atau hasil investasinya. Begitu juga bila seseorang memiliki
rumah, dia bisa menyewakannya kepada pihak lain, orang tersebut akan
mendapatkan hasil sewa. Jadi, semakin besar harta Anda, Biasanya akan
semakin besar pula penghasilan yang Anda terima. Selanjutnya penghasilan
tersebut bisa Anda gunakan untuk memperbesar harta Anda, yang pada
akhirnya bisa digunakan
untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Begitu seterusnya.
Tempat Tinggal
Tempat tinggal juga berpengaruh pada penghasilan seseorang. Dua orang
manajer yang sama, misalnya, baik umur maupun jenis pekerjaannya, bisa
saja berbeda penghasilannya bila mereka tinggal di dua kota yang
berbeda.
Faktor-faktor Lain
Selain faktor-faktor diatas, ada juga variabel lain yang biasanya
mempengaruhi penghasilan yang didapatkan seseorang seperti
keberuntungan, bakat, kerja keras, koneksi, dan diskriminasi.
Keberuntungan
Berada pada tempat dan waktu yang tepat kadang juga mempengaruhi
penghasilan dari dua orang yang berkemampuan sama. Bisa saja penghasilan
yang Anda dapatkan lebih tinggi bila perusahaan Anda memang sedang
membutuhkan Anda sebagai karyawan. Tetapi, hal yang berbeda bisa terjadi
bila kondisi perekonomian negara sedang jatuh, dan perusahaan Anda
sedang kekurangan order sehingga tidak bisa memberikan gaji tinggi
kepada karyawannya.
Bakat
Pada beberapa profesi, bakat juga berpengaruh besar. Seorang teman saya
yang arsitek mengakui bahwa bakat juga berpengaruh pada profesinya
tersebut, karena bisa jadi mutu kerjanya juga berbeda.
Kerja Keras
Beberapa orang ada yang tidak mau ngoyo dalam bekerja, tapi beberapa
yang lain justru bekerja lebih keras. Mereka berusaha sebaik-baiknya
untuk mengerjakan tugas yang diberikan. Harapannya jelas, yaitu
mendapatkan kenaikan jabatan dan otomatis mendapatkan kenaikan gaji.
Termasuk yang manakah Anda?
Koneksi
Kadang-kadang, koneksi juga berperan dalam penghasilan seseorang. Bisa
jadi, karena Anda punya koneksi yang bekerja sebagai kepala divisi
SDM/Personalia (yang mengurusi penerimaan pegawai), atau yang bekerja
sebagai kepala divisi keuangan (yang mengurusi pembagian gaji) di sebuah
perusahaan, maka hal itu bisa saja mempengaruhi jumlah penghasilan yang
Anda terima.
Diskriminasi
Diskriminasi sering juga mempengaruhi penghasilan seseorang. Di
Indonesia, diskriminasi ini sering dilakukan terutama berkaitan dengan
masalah jenis kelamin dan SARA. Dua orang yang berkemampuan sama, tetapi
berjenis kelamin berbeda, bisa jadi mempengaruhi besarnya penghasilan.
Begitu juga bila ada dua orang yang berkemampuan sama tetapi berasal
dari dua suku yang berbeda, kadang-kadang juga akan mempengaruhi
penghasilan yang
didapat.
Artikel Penghasilan dan Faktor Pendukungnya ini di ambil dari
http://www.perencanakeuangan.com
Diterbitkan oleh Safir Senduk dan Rekan.


