Archive for the 'Keuangan' Category

Menghitung Perkiraan Biaya Pendidikan

MENGHITUNG PERKIRAAN BIAYA PENDIDIKAN

Oleh: Safir Senduk

Ketika beberapa hari lalu saya berbicara di sebuah seminar di Surabaya, saya kaget ketika seorang peserta seminar bercerita tentang mahalnya biaya masuk kuliah dari sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Jumlahnya tidak usah saya ceritakan berapa, tapi yang jelas sangat mahal. Padahal, itu baru uang masuknya doang.

Hal ini membuat saya semakin yakin bahwa yang namanya Biaya Pendidikan harus dipersiapkan sejak sekarang. Betul, memang tidak semua Biaya Pendidikan itu mahal. Bervariasinya bentuk sekolah, terutama sekolah yang jenjangnya sudah cukup tinggi seperti Sekolah Tinggi, Akademi atau Universitas, membuat tidak semua standar biaya bisa sama. Jangankan pendidikan tinggi, jenjang sekolah yang lebih rendah seperti SD, SMP dan SMU saja bisa bervariasi biayanya satu sama lain. Itulah karenanya beberapa di antara Anda ada yang merasa mampu untuk membayar biaya pada Sekolah A, tetapi tidak mampu untuk membayar biaya pada Sekolah B yang harganya lebih mahal.

Namun demikian, perlu diketahui bahwa bukan berarti Sekolah A yang biayanya dinilai murah tersebut akan tetap sama murahnya pada tahun-tahun mendatang. Ini karena yang namanya Biaya Pendidikan pasti akan naik terus dari tahun ke tahun. Jadi, kalaupun sekarang ada sekolah yang biaya pendidikannya dirasa tidak mahal, tetapi karena biaya tersebut naik terus tiap tahun, jatuh-jatuhnya pasti mahal.

Saya beri contoh sederhana saja: anggap saja sekarang anak Anda berusia 3 tahun. Pertanyaannya gampang, kalau sekarang Uang Pangkal SMU adalah Rp 4 juta, dan usia rata-rata seseorang masuk SMU adalah ketika pada usia 15 tahun, apakah nantinya Anda akan membayar jumlah yang sama ketika nantinya anak Anda masuk SMU sekitar 12 tahun lagi?

Pasti beda, karena nantinya Biaya Pendidikan tersebut pasti akan jauh lebih mahal.

CARA MENGHITUNG

Lalu, bagaimana cara Anda bisa menghitung dan memperkirakan jumlah Biaya Pendidikan anak Anda kelak kalau biaya pendidikan selalu naik dari tahun ke tahun? Kan, Anda tidak tahu berapa persen jumlah kenaikannya setiap tahun?

Betul. Kita memang tidak bisa memperkirakan dengan pasti berapa jumlah Biaya Pendidikan anak kita kelak. Yang bisa kita lakukan adalah dengan menggunakan asumsi tertentu, dan berharap supaya pengandaian tersebut tidak meleset. Sebagai contoh, kita bisa menggunakan asumsi bahwa setiap tahun Biaya Pendidikan akan selalu naik sebesar 10 persen setiap tahun. Rata-rata.

Dengan demikian, kalau misalnya Uang Pangkal masuk SMU pada saat ini adalah Rp 4 juta, tahun depan bisa diperkirakan bahwa Uang Pangkal tersebut akan menjadi Rp 4.400.000,-. Darimana angka itu didapat? Gampang: Rp 4 juta + (10% x Rp 4 juta)

TINGGAL DIKALIKAN

Sebetulnya, selain cara di atas, Anda juga bisa memakai rumus: Rp 4 juta X 1,1.

Lho, kok 1,1? Dapat dari mana itu? Oh, itu sih cuma matematika sederhana. 1,1 kan sama dengan 10% di atasnya 100%. Jadi, 1,1 itu adalah bentuk desimal agar Anda lebih cepat dalam melakukan perkalian memperkirakan jumlah Biaya Pendidikan.

Tapi kalau Anda mau pakai pengandaian kenaikan Biaya Pendidikan 20% per tahun, maka Anda bisa menggunakan bentuk desimal 1,2. Kalau asumsi kenaikan Biaya Pendidikannya adalah 30% per tahun, gunakan bentuk desimal 1,3. Begitu seterusnya.

Nah, kembali ke contoh kenaikan 10% dalam satu tahun, maka apabila tahun ini Uang Pangkal masuk SMU adalah Rp 4 juta, maka tahun depan angka tersebut diperkirakan menjadi: Rp 4 juta x 1,1 = Rp 4.400.000.

Itu untuk tahun depan. Kalau untuk dua tahun ke depan bagaimana? Anda bisa melakukan perkalian tersebut diatas dengan cara mengulangnya sampai dua kali, seperti ini: Rp 4 juta x 1,1 X 1,1

Kalau untuk lima tahun ke depan bagaimana?

Ulang perkalian tersebut sampai lima kali, seperti ini: Rp 4 juta x 1,1 X 1,1 X 1,1 X 1,1 X 1,1. Kalau untuk 12 tahun ke depan? Ulang sampai duabelas kali. Begitu seterusnya.

Memang, yang namanya perkiraan Biaya Pendidikan seringkali tidak bisa dihitung dengan cara yang sesederhana itu. Tapi melakukan perkiraan jelas masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Dengan adanya angka perkiraan seperti yang sudah Anda pelajari di atas tadi, maka Anda bisa lebih mudah dalam melakukan persiapan. Ibarat Anda sedang bepergian, Anda tahu dengan pasti ke mana arah yang sedang Anda tuju.

Jadi, kalau Anda ingin mempersiapkan dana pendidikan untuk anak Anda, hal yang paling penting adalah dengan melakukan perhitungan tentang berapa perkiraan jumlah Biaya Pendidikan anak Anda kelak. Dengan demikian, akan lebih mudah bagi Anda untuk mengatur strategi agar siap bila tiba saatnya nanti.

Oleh: Safir Senduk

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 756/XIV

Sumber: http://www.perencanakeuangan.com/files/PerkiraanBiayaPendidikan.html

Membuka Usaha Sampingan

MEMBUKA USAHA SAMPINGAN

Oleh: Safir Senduk

Pada beberapa edisi lalu saya mengatakan ke-pada Anda bahwa untuk mendapatkan penghasilan tambahan ada empat cara yang bisa Anda lakukan. Yakni bekerja pada orang lain, bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian, membuka usaha sampingan, atau melakukan investasi.

Dari keempat hal tersebut, membuka usaha sampingan biasanya merupakan cara yang cukup baik untuk mendapatkan peng-hasilan tambahan. Dengan membuka usaha sampingan, pertama-tama Anda mungkin harus terlibat penuh didalamnya. Tapi lama kelamaan, bila usaha itu besar, Anda bisa menyerahkan pengelolaannya pada orang lain, sehingga Anda bisa punya lebih banyak waktu. Sementara pemasukan terus berjalan.

Bandingkan dengan apabila Anda bekerja pada orang lain atau bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian. Bekerja pada orang lain jelas Anda harus mengikuti jam kerja yang disyaratkan. Sedangkan bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian, biasanya Anda bisa menentukan waktu kerja Anda sendiri, tapi tetap saja Anda akan sibuk

PENGHASILAN BISA BESAR

Jangan salah kira, usaha sampingan, apabila Anda jalankan dengan sungguh-sungguh bisa memberikan hasil yang sama ­ bahkan lebih besar ­ dibanding bila Anda bekerja dan mendapatkan gaji.

Saya pernah memperhatikan tukang sate yang berjualan di dekat rumah saya. Setiap hari, dari jam 17.00 - 24.00 (7 jam kerja), ia bisa menjual sekitar 250 tusuk sate ayam. Kalau satu tusuk dihargai Rp 400, maka ini berarti ia mendapatkan Rp 100 ribu sehari. Dalam sebulan, ia bisa bekerja sekitar 25 hari. Ini berarti pemasukannya sebulan mencapai Rp 2,5 juta. Saya pernah tanya berapa sih keuntungannya dari Rp 2,5 juta itu? Dia bilang sekitar 60 persen. Ini berarti keuntungannya adalah Rp 1,5 juta setiap bulan. Itu belum termasuk keuntungan dari penjualan lontongnya.

Tentu saja Anda tidak harus jadi penjual sate bila Anda memang tidak mau. Anda bisa membuka usaha lain yang mungkin lebih Anda kuasai seluk-beluknya. Prinsipnya di sini adalah apa pun usahanya, kalau Anda jalankan dengan serius, hasilnya bisa besar.

Pada awalnya yang namanya usaha mungkin tidak akan selalu berjalan lancar. Penghasilannya mungkin belum seberapa. Tapi itu karena usaha Anda mungkin belum dikenal orang banyak. Namanya juga masih baru. Lama kelamaan, seiring dengan makin dikenalnya usaha Anda, usaha Anda pasti akan mulai berkembang, sehingga hasil yang Anda dapatkan makin besar pula.

Tukang sate tadi misalnya. Saya yakin, pertama kali ia membawa dagangannya, orang mungkin masih ragu-ragu untuk mencoba satenya, karena orang baru pertama kali melihat tukang sate ini. Tapi lama kelamaan, orang mulai memesan satenya, dan akhirnya orang ini identik dengan sate. Setiap kali ia lewat di depan rumah saya, saya langsung teringat akan satenya. Itu bukti bahwa usaha apa pun membutuhkan pengenalan.

Orang harus kenal lebih dulu dengan usaha Anda, apa pun usaha itu. Entah toko, entah restoran kecil, entah usaha jahitan. Mungkin pengenalannya makan waktu satu tahun, dua tahun, atau mungkin hanya beberapa bulan, tergantung bagaimana promosi Anda. Setelah kenal, barulah selebihnya tergantung pada kualitas produk Anda. Bila sekali saja konsumen tak suka, seterusnya mereka kapok membeli produk Anda. Apa pun jenisnya. Karena itu, Anda juga harus menjaga kualitas produk agar sesuai keinginan konsumen.

TIDAK HARUS MENINGGALKAN PEKERJAAN

Siapa bilang bahwa Anda harus meninggalkan pekerjaan tetap Anda sekarang bila Anda menjalankan usaha Anda? Anda tidak harus meninggalkan pekerjaan tetap Anda. Anda bisa menjalankan usaha Anda sambil Anda tetap bekerja di pekerjaan Anda sekarang.

Hitung-hitung, Anda nantinya akan punya pendapatan yang dobel kan? Pertama-tama, mungkin pendapatan usaha Anda masih jauh lebih kecil dibanding gaji dari pekerjaan Anda. Tetapi lama-lama, seiring dengan makin dikenalnya usaha Anda, usaha Anda akan makin maju, dan pendapatan usaha Anda siapa tahu akan meningkat dan bisa menyamai gaji Anda?

Kemudian, siapa tahu juga pendapatan usaha Anda bisa meningkat lagi dan melebihi gaji Anda? Saya banyak melihat contoh orang yang merintis usaha sambil tetap mempertahankan pekerjaannya. Lama-lama ketika usahanya makin sukses, pendapatan dari usahanya meningkat, dan jumlahnya jauh melebihi gajinya. Sehingga ia memiliki pilihan apakah ia akan mempertahankan kedua pendapatannya, atau meninggalkan pekerjaannya dan terjun total 100 persen ke dalam usahanya dengan harapan agar penghasilan dari usahanya bisa makin besar.

Bagi Anda yang menjadi ibu rumah tangga dan hanya suami yang bekerja, mungkin bisa lebih enak lagi. Anda merintis usaha Anda, sementara suami Anda tetap mendapatkan gaji dari pekerjaannya. Masing-masing dari Anda sekarang menghasilkan pendapatan bagi keluarga. Bukan begitu?

SIAP MELUANGKAN WAKTU

Kalau Anda menjalankan usaha Anda sambil masih tetap bekerja, maka Anda harus siap meluangkan waktu. Bagi Anda yang menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga, Anda harus siap menyisihkan sekitar ­ mungkin ­ 4 jam setiap hari untuk mengurus usaha baru Anda. Bagi Anda yang juga bekerja di kantor, mungkin Anda harus siap menjalankan usaha Anda pada malam hari. Terserah Anda. Yang jelas, Anda harus memiliki komitmen untuk mau menjalankan usaha Anda, dan jangan kaget kalau nanti Anda akan lebih capek dari biasanya. Ini wajar, karena Anda menjalankan dua pekerjaan sekaligus kan?

Tapi apa yang membuat Anda mau lebih capek dari biasanya? Apa yang membuat Anda mau repot-repot menjalankan usaha Anda? Ini karena Anda ingin agar usaha Anda bisa berkembang kelak dan pengelolaannya bisa Anda serahkan ke anak buah Anda sehingga Anda bisa punya lebih banyak waktu untuk keluarga Anda kelak sementara tetap men-dapatkan penghasilan. Jadi, Anda investasi waktu (mau lebih sibuk) sekarang, dengan harapan agar Anda mendapatkan waktu yang lebih banyak kelak. Jadi, sesibuk apa pun sekarang, kenapa Anda tidak luangkan waktu untuk merintis sebuah usaha?

PERLU DUKUNGAN KELUARGA

Minta dukungan dari keluarga Anda. Kalau perlu, ajak suami Anda untuk ikut membantu Anda. Libatkan suami Anda dari awal. Dengan demikian, suami Anda bisa ikut berperan dalam usaha Anda. Dukungan suami itu penting lo. Banyak usaha rumahan yang gagal karena tidak adanya dukungan suami.

Bukan berarti Anda tidak akan berhasil dalam usaha Anda bila tidak didukung suami, tapi memang akan sangat membantu kalau suami Anda ikut mendukung usaha Anda kan? Kalau perlu, jangan katakan pada suami bahwa ini adalah usaha Anda. Katakan padanya bahwa ini adalah usaha keluarga, bukan usaha Anda. Kelak kalau usaha ini besar, suami Anda bisa ikut terlibat di dalamnya. Bukankah akan mengasyikkan bila suami-istri bekerja bersama membangun usaha keluarga?

TIDAK HARUS SEKOLAH TINGGI

Apakah Anda adalah salah satu dari mereka yang tidak mengenyam sekolah tinggi? Apakah Anda cuma lulusan SMP? Apakah Anda cuma lulusan SMEA? Atau apakah Anda sama sekali tidak pernah sekolah dan hanya punya pengalaman?

Baca ini: Anda tidak harus mengenyam sekolah tinggi lebih dulu untuk bisa membuka usaha dan berhasil dalam usaha Anda. Kita sudah sering mendengar dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ada banyak orang berhasil dalam membangun usahanya dari nol, meski tidak memiliki pendidikan tinggi. Liputan di NOVA, baik rubrik Profil maupun Peristiwa, sering menampilkannya.

Apa resepnya sehingga mereka bisa berhasil? Ketekunan dan motivasi untuk bisa berhasil. Yang lebih penting, ia ­ walaupun tidak sekolah tinggi ­mau belajar. Belajar tidak harus ditempuh dengan sekolah. Anda bisa belajar dari pengalaman Anda, dari buku, dan dari pengalaman orang lain (baik keberhasilan maupun kegagalannya). Satu lagi, mereka mau memulai usahanya dari kecil lebih dulu, sebelum lama-lama usaha itu menjadi besar. Percayalah, Anda punya kesempatan yang sama dengan saya, dan dengan orang yang lain untuk bisa berhasil, walaupun Anda tidak memiliki pendidikan tinggi sekalipun.

Jadi tunggu apa lagi? Tetapkan tekad untuk membuka usaha sampingan. Sekarang juga.

Oleh: Safir Senduk

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 675/XIII

Sumber: ttp://www.perencanakeuangan.com/files/UsahaSampingan.html

Bagaimana caranya investasi bila tak punya uang?

Bagaimana caranya investasi bila tak punya uang?

Membaca kembali buku Wink and Grow Rich tulisan Roger Hamilton (sudah
ada terjemahnya) menyegarkan kembali ingatan akan prinsip-prinsip
investasi. Buku ini menarik karena ditulis dalam bentuk cerita,
seperti halnya buku klasik Who Moved My Cheese.

Saya ingin investasi, tapi, saya nggak punya uang. Gimana ya?

Begitulah pertanyaan kebanyakan orang. Demikian pula pertanyaan
Richard, anak kecil yang ayahnya sedang sakit, dalam cerita itu.
Pertanyaan itu dibahas dengan bijak oleh tokoh si Tukang Ledeng (the
Plumber), seorang pengusaha yang bekerja dalam bisnis mengurus pipa air.

“Kalau tidak punya uang untuk diinvestasikan, maka investasikanlah
waktumu,” demikian pesan si Plumber. Ibarat tetes air, maka setiap
hari kita diberi bekal 24 tetes air untuk diinvestasikan. Kebanyakan
tetes tersebut dibelanjakan (spent) saja, dan luput untuk
diinvestasikan (invest).

Kebanyakan orang menghabiskan 24 jam setiap harinya untuk hal-hal
berikut : tidur, makan, mandi, kerja, santai, dan ngobrol-ngobrol.
Semua hal itu adalah waktu yang dibelanjakan. Loh, bukankah kerja
menghasilkan uang? Ya, kerja memang menghasilkan uang. Namun waktu
yang digunakan bekerja pada hakekatnya adalah waktu yang ditukarkan
dengan uang. Sifatnya berjangka pendek. Pekerjaan beres, Anda dibayar.
Selesai.

Orang-orang yang sukses sekarang ini, dulunya juga tidak punya uang
seperti kebanyakan orang lainnya. Bedanya, mereka menginvestasikan
waktunya, selain tentu ada yang dibelanjakan. Dimana mereka
menginvestasikan waktu? Ada dua tempat, satu adalah untuk menjalin
jaringan rekanan (network), dan ke dua untuk meningkatkan kemampuan
diri (myself).

Bagi seorang pengusaha pemilik bisnis, kegiatan sehari-hari ibarat
menginvestasikan waktu. Ketika dia menemui rekanan atau klien, dia
sedang membangun network. Ketika dia mencari solusi masalah klien, dia
sedang berinvestasi pada kemampuan diri.

Sebaliknya bagi karyawan, ketika dia mengerjakan tugas pekerjaan,
sebenarnya dia hanya menukarkan tenaganya untuk bayaran di akhir
bulan. Jadi ini hanya pertukaran. Orang yang ditemui ketika dia
bekerja dalam tugas bukanlah network dia (tapi network perusahaan),
jadi hal ini tidak disebut investasi.

Loh, bukankah ketika seorang karyawan mencari solusi buat klien itu
juga berarti investasi? Ya benar, bila hal tersebut meningkatkan
kemampuan diri. Tapi bisa juga tidak, bila kegiatan tersebut hanya
untuk digunakan dalam jangka pendek.

Kunci membedakan apakah kegiatan kita merupakan investasi atau sekedar
membelanjakan waktu adalah hasil jangka panjang. Kalau kegiatan itu
memberikan manfaat jangka panjang, maka itu adalah investasi waktu.
Kalau hasilnya hanya jangka pendek (tugas selesai lalu dibayar) maka
itu hanyalah pembelanjaan waktu, yaitu pertukaran waktu kita dengan
uang.
jam investasi

Bekerja sekaligus berinvestasi

Di setiap pekerjaan ada kesempatan berinvestasi waktu, yaitu ketika
secara sadar kita memilih untuk membangun network dan kemampuan diri.
Misalnya Anda hobi ngobrol-ngobrol. Kalau hanya ngobrol dengan teman
yang itu-itu saja, juga dengan topik sekitar gosip artis saja, maka
jelas itu sekedar membelanjakan waktu. Tapi kalau Anda ngobrol dengan
orang-orang baru, maka Anda sedang berinvestasi dengan network Anda.
Atau mungkin ngobrol dengan teman lama Anda, tapi ngobrol tentang
peluang usaha baru, kesempatan kerjasama, atau ngobrol tentang ilmu
yang bermanfaat buat mengelola keuangan keluarga Anda misalnya, maka
itu adalah investasi waktu.

Saya ingat kisah Peter Lynch, manajer investasi di Fidelity
Investment. Dia bercerita bahwa sewaktu mahasiswa dia mencari
penghasilan dengan menjadi caddy golf (tukang bantu membawa tongkat
golf). Waktu itu di tahun enam puluhan, dan sebagai caddy golf dia
bertemu dengan para jutawan yang hobinya main golf. Para jutawan itu
sering bicara tentang investasi, maka Peter pun mendapat info-info
gratis yang berharga. Suatu ketika dia mendengar bahwa saham Tiger
Airlines sedang mengalami peningkatan nilai. Maka dengan uang
sekedarnya Peter ikut-ikutan membeli saham Tiger Airlines. Ternyata
benar, saham Tiger Airlines naik cukup tinggi sehingga Peter pun
mendapat keuntungan besar. Selepas kuliah Peter kemudian masuk ke
perusahaan pialang saham, dan terus berkarir sehingga menjadi pemimpin
di Fidelity Investment. Peter bekerja sambil berinvestasi waktu. Dia
berinvestasi mendekati dunia kaum investor sehingga mendapat peluang
dari network (tak langsung) tersebut.

Saya ingat juga kisah seorang teman saya. Dia rajin silaturrahmi
menjalin network dengan banyak orang. Suatu ketika dia menghubungkan
dua pihak untuk transaksi pembelian alat senilai sekitar 125 ribu
dolar. Dia hanya menghubungkan saja tanpa berharap banyak transaksi
tersebut terjadi. Eh, ternyata transaksi tersebut benar terjadi.
Tiba-tiba dia diberi fee senilai 8000 dolar (kira-kira 70 juta
rupiah). Saya kira bagi kebanyakan orang nilai tersebut diraih dengan
berbulan-bulan (atau bertahun-tahun) menabung. Sedangkan teman saya
meraihnya dalam beberapa jam menjadi pialang. Membangun network adalah
bentuk investasi waktu yang sangat baik.

Demikian pula kisah seorang satpam di sebuah perusahaan minyak
nasional. Sambil tugas malam, ketika rehat dari berkeliling, dia
membuat corat-coret desain ukiran kayu semacam bebek-bebek kayu.
Beberapa tahun kemudian dia mengundurkan diri setelah punya gift shop
di Kemang dan Plaza Indonesia. Dia telah menginvestasikan waktu untuk
kemampuan diri, sementara banyak rekan satpam lainnya hanya
membelanjakan waktu untuk pertukaran dengan uang.

Sebuah kisah nyata yang lain. Seorang pengusaha membuka warung `sate
banteng’, yaitu sate yang memakai daging sapi. Beberapa lama kemudian
pemilik warung tidak lagi terlalu berminat untuk mengembangkan warung
tersebut. Seorang karyawannya di bagian pembakar sate berminat dengan
resep yang digunakan. Maka karyawan tadi kemudian mendirikan warung
`sate banteng’ dan serius menekuninya. Ternyata laris manis. Warungnya
berkembang makin besar, bahkan bisa diwariskan ke anaknya. Karyawan
ini berhasil menginvestasikan waktunya untuk belajar membuat sate
banteng yang enak. Ilmunya digunakan untuk membuat produk yang
bernilai jual. Manfaat ilmunya dirasakan dalam jangka panjang sampai
anak cucu.

Mari kita pikirkan sejenak. Dalam sehari ini, berapa jam telah kita
investasikan untuk membangun network kita? Berapa jam pula telah kita
investasikan untuk diri kita (meningkatkan kemampuan diri yang
bernilai jual)? Nihil? Tidak sejam pun? Pantaslah kalau hidup kita tak
maju-maju.

Waktu yang Anda pakai bekerja adalah waktu yang Anda belanjakan. Waktu
yang Anda pakai untuk membangun network dan meningkatkan nilai jual
diri, itulah waktu yang Anda investasikan.

Bagaimana dengan waktu Anda untuk membaca blog? Investasi atau belanja
nih?

Sumber:
http://sepia.blogsome.com/2008/03/22/bagaimana-caranya-investasi-bila-ta
k-punya-uang/

Pentingnya Punya Dana Cadangan

Pentingnya Punya Dana Cadangan

Seringkali dalam hidup terjadi suatu hal yang bersifat emergency yang
membutuhkan dana dalam waktu segera. Contohnya adalah ketika Anda di PHK
sehingga harus mengambil dana guna membiayai hidup selama masih belum
mendapatkan pekerjaan.
Itu contoh yang ‘besar’. Contoh kecilnya mungkin ketika anak Anda sakit
dan harus dirawat di RS yang mungkin membutuhkan dana.

Tetapi yang sering terjadi, banyak orang yang tidak memiliki dana
tersebut. Ini karena setiap kali mereka mendapatkan income, mereka
selalu menghabiskannya. Itulah sebabnya, seseorang yang mengalami PHK
umumnya mendapatkan apa yang namanya Uang Pesangon. Uang ini bisa
membiayai hidupnya selama tidak bekerja. Namun demikian, besarnya
pesangon tersebut seringkali dirasakan tidak mencukupi bagi mereka yang
mendapatkannya.

Jadi, tak perlu dikatakan lagi, penting sekali memiliki persediaan dana
dalam rekening Anda, yang bisa digunakan sebagai dana cadangan untuk
membiayai hidup Anda apabila terjadi sesuatu. Karena itu, persediaan
dana ini disebut Dana Cadangan.

Besar Dana Cadangan yang dibutuhkan

Jumlah Dana Cadangan yang dibutuhkan sangat tergantung dari seberapa
besar pengeluaran Anda setiap bulan, dan seberapa stabilnya penghasilan
Anda.

Sebagai contoh, bila Anda bekerja dan mendapatkan penghasilan (berupa
gaji) sebesar Rp 2 juta per bulan, dan memiliki pengeluaran sebesar Rp
1,5 juta per bulan, maka Anda membutukan jumlah Dana Cadangan sebesar
tiga sampai enam bulan pengeluaran Anda. Ini berarti, Anda harus
memiliki Dana Cadangan sebesar Rp 4,5 s/d 9 juta dalam rekening Anda
sebagai persediaan apabila Anda harus mengalami kehilangan penghasilan.

Tetapi, bila penghasilan yang Anda dapatkan tidak stabil, seperti komisi
yang jumlahnya tidak tetap, maka jumlah Dana Cadangan yang saya sarankan
adalah sebesar 12 bulan pengeluaran bulanan. Ini berarti, bila
pengeluaran Anda mencapai Rp 1,5 juta per bulan, maka Anda harus
memiliki Dana Cadangan sebesar Rp 18 juta dalam rekening. Jadi intinya
di sini, semakin besar risiko tidak berpenghasilan dalam pekerjaan Anda,
semakin besar juga jumlah Dana Cadangan yang sebaiknya Anda miliki.

Di mana Dana Cadangan harus disimpan?

Pertanyaannya sekarang, di mana Anda harus menaruh Dana Cadangan Anda?
Ada dua kategori yang harus dipenuhi sebagai tempat menyimpan Dana
Cadangan tersebut:

-Aman (Anda tidak akan kehilangan uangnya dan jumlahnya tidak berkurang)

-Likuid (Anda bisa mengambilnya kapanpun tanpa dikenakan penalti).

Tentunya, deposito merupakan tempat yang aman bagi uang Anda, karena
jumlah uang yang Anda masukkan tidak akan berkurang. Tetapi, deposito
tidak likuid karena Anda tidak bisa mengambilnya kecuali bila sudah
jatuh tempo. Bila belum jatuh tempo, maka Anda akan dikenakan penalti
bila akan mengambil uang itu.

Hanya ada empat tempat yang bisa Anda gunakan untuk menyimpan Dana
Cadangan Anda:
- Lemari Anda
- Tabungan di Bank
- Giro di Bank
- Reksa Dana Pasar Uang

Namun demikian, bila jumlah Dana Cadangan Anda memang dirasakan cukup
besar, maka mungkin tidak apa-apa untuk memasukkannya sebagian ke dalam
deposito, asalkan dengan masa jatuh tempo yang tidak terlalu lama, yaitu
satu atau tiga bulan.

Jangan Memiliki Dana Cadangan Terlalu Banyak

Batasi jumlah Dana Cadangan Anda sampai sebesar 12 bulan pengeluaran
bulanan Anda. Ini karena Dana Cadangan Anda akan disimpan dalam tempat
yang bunganya kecil, atau di tempat yang tidak menghasilkan bunga sama
sekali (kalau menyimpannya di lemari). Sehingga, apabila Anda memiliki
jumlah Dana Cadangan yang terlalu besar, maka ini berarti sebagian dari
dana Anda tidak akan produktif.

Bila Belum Memiliki Dana Cadangan

Bila Anda pada saat ini belum memiliki Dana Cadangan, maka tak ada jalan
lain bagi Anda kecuali dengan menabung. Anda bisa menyisihkan sebagian
kecil dari penghasilan Anda, yang bisa dilakukan di muka setiap kali
mendapatkan penghasilan.

Dengan ‘menumpuk’ dana sedikit demi sedikit, maka pada akhirnya Anda
akan memiliki jumlah Dana Cadangan yang Anda butuhkan. Jadi, Dana
Cadangan itu mungkin tak akan langsung terkumpul, tetapi harus menunggu
selama tiga, enam atau bahkan duabelas bulan. Ini tentunya masih lebih
baik daripada Anda tidak memiliki Dana Cadangan sama sekali.

Oleh: Safir Senduk (http://www.perencanakeuangan.com)
Dikutip dari detikcom

***

Terima kasih untuk mas Safir Senduk dan SSR-Klub nya.

Mudah-mudahan seri artikel perencanaan keuangan ini bermanfaat buat
temen-temen semua, dan semakin memahami mengenai Pentingnya Punya Dana
Cadangan.

Mencari Penghasilan Tambahan

Mencari Penghasilan Tambahan pernah saya sarankan dalam artikel-artikel
sebelum nya dan sebaiknya Anda mulai mencoba untuk mencari penghasilan
tambahan ini secepatnya, kalau bisa dalam tahun ini juga.

Kenapa sih Anda perlu mencari penghasilan tambahan?

Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya (dan seringkali saya
ulang-ulang), bahwa salah satu kunci kesejahteraan keuangan dalam
keluarga sebetulnya bukanlah di seberapa besar jumlah penghasilan Anda,
tapi bagaimana Anda mengelola penghasilan tersebut. Berapapun besarnya
penghasilan dalam keluarga Anda, kalau Anda tidak bisa mengelolanya
dengan baik, maka kesejahteraan tidak akan bisa Anda raih.

Namun demikian, apakah Anda sebaiknya tidak usah menambah penghasilan
dalam keluarga Anda? Tidak juga. Penghasilan yang besar memang tidak
menjamin bahwa keluarga Anda bisa mencapai kesejahteraan keuangan, tapi
penghasilan yang besar bisa membantu keluarga Anda mencapai
kesejahteraan.

Jadi sekali lagi, penghasilan yang besar tidak menjamin, tetapi hanya
membantu. Karena itu, akan lebih baik kalau Anda bisa menambah sumber
penghasilan Anda.

Ada sejumlah cara untuk mencari penghasilan tambahan dalam keluarga
Anda:

1. Bekerja sebagai karyawan
2. Bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian
3. Menjalankan Usaha Sampingan
4. Berinvestasi

Bekerja Sebagai Karyawan

Anda bisa mencari penghasilan tambahan dengan bekerja di sebuah
perusahaan. Anda bisa bekerja sebagai seorang sekretaris, karyawan
bagian pembukuan, administrasi, atau apa pun itu. Yang penting, Anda
mendapatkan gaji. Jadi kalau pada saat ini Anda tidak bekerja dan hanya
pasangan Anda yang bekerja (sebagai karyawan juga misalnya), maka dengan
sekarang Anda juga bekerja sebagai karyawan, maka akan ada dua gaji
dalam keluarga Anda.

Atau, kalau misalnya pada saat ini Anda sudah bekerja sebagai seorang
karyawan, mungkin Anda bisa menjadi karyawan juga di tempat lain. Jadi
Anda mendapatkan dua gaji. Seorang teman saya bekerja di sebuah
perusahaan dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Sedangkan malamnya dia
juga bekerja di sebuah restoran dari jam 6 sore sampai jam 10 malam. Dia
mendapatkan dua gaji dalam sebulan.

Apa sih kelebihan dan kekurangannya dengan bekerja sebagai karyawan?
Yang jelas, bekerja sebagai karyawan memang enak, karena Anda tinggal
datang, bekerja, dan pada akhir bulan mendapatkan gaji. Anda cuma perlu
menuruti aturan jam kerjanya saja.

Kekurangannya, tentu saja, bahwa kalau Anda tidak bekerja, Anda tidak
akan mendapatkan gaji. Sederhana sekali. Itulah sebabnya banyak orang
yang sudah berusia 50 - 60 tahun tetapi masih tetap bekerja sebagai
karyawan karena takut tidak mendapatkan gaji lagi bila dia tidak
bekerja.

Bekerja Sendiri dengan Mengandalkan Keahlian

Kalau Anda punya keahlian khusus, Anda bisa bekerja dan mendapatkan
honor dari situ. Contohnya, kalau Anda bisa menyanyi, Anda bisa menyanyi
di pesta-pesta dan mendapatkan honor. Mungkin Anda bisa mengajar? Yah,
kalau Anda bisa mengajar, Anda bisa mengajar dan mendapatkan honor.

Bekerja sendiri harus dibedakan dengan bekerja sebagai karyawan. Sebagai
karyawan Anda mendapatkan gaji, sedangkan di sini Anda tidak mendapatkan
gaji, tetapi mendapatkan honor. Contoh mereka yang bekerja dengan
mengandalkan keahlian dan mendapatkan honor pada umumnya adalah artis
yang main sinetron, atau dokter dan arsitek yang membuka praktek sendiri
dengan mendapat bayaran dari pasien atau kliennya.

Kalau Anda perhatikan, sebetulnya hampir setiap orang punya keahlian
atau keterampilan khusus yang bisa dijual. Masalahnya di sini adalah
apakah Anda berani menjadikan keahlian atau keterampilan yang Anda
miliki itu untuk bisa dijual kepada khalayak?

Kelebihan bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian adalah bahwa Anda
akan mendapatkan penghasilan yang memang sesuai dengan keahlian Anda.
Artinya, Anda akan termotivasi untuk lebih memperdalam keahlian Anda
sehingga akan mendapatkan bayaran yang lebih. Kekurangannya adalah,
kalau Anda tidak bekerja (absen), Anda tidak akan mendapatkan bayaran.

Menjalankan Usaha Sampingan

Kenapa Anda tidak mencoba menjalankan sebuah usaha sampingan? Anda bisa
membuka toko atau warung. Anda bisa buka biro jasa yang menjual segala
macam jasa. Mungkin juga sebuah usaha jahitan. Kenapa Anda tidak
mencobanya?

Yang penting di sini, usaha sampingan tersebut suatu saat kelak bisa
Anda serahkan pengelolaannya kepada anak buah yang Anda percayai,
sehingga Anda tidak perlu terlibat terus di dalamnya seumur hidup Anda.
Toko misalnya. Anda mungkin bisa membuka sebuah toko yang menjual
barang-barang kebutuhan sehari-hari. Setelah beberapa bulan, Anda kan
bisa menyerahkan pengelolaannya kepada anak buah Anda (yang Anda gaji
tentunya), sehingga Anda bisa enak nonton teve di rumah tapi bisa tetap
mendapatkan hasil keuntungan dari toko tersebut tiap bulannya. Inilah
yang menjadi kelebihan dari menjalankan usaha sendiri.

Mungkin Anda berpikir bahwa untuk bisa berhasil dalam usaha perlu modal
uang yang cukup besar. Tapi Anda boleh tidak percaya, kesuksesan sebuah
usaha seringkali tidak tergantung pada besarnya modal Anda. Silakan
toleh di sekeliling Anda, ada banyak orang yang berhasil dalam usahanya
dengan modal yang hanya sedikit. Yang paling penting di sini adalah ide.

Ada memang beberapa usaha yang membutuhkan modal awal yang cukup besar,
tapi banyak juga bidang usaha yang tidak membutuhkan modal awal yang
terlalu besar. Yang paling penting di sini adalah bagaimana Anda bisa
“mengakali” jumlah uang yang Anda miliki sekarang agar cukup untuk bisa
menjalankan ide bisnis di kepala Anda. Dengan menjalankan sebuah usaha,
Anda otomatis lebih terlatih untuk bisa mandiri dan bertahan hidup.
Itulah
yang menjadi salah satu kelebihan lain dari menjalankan usaha sendiri.

Berinvestasi

Anda punya uang berlebih? Kenapa tidak menginvestasikannya saja? Jika
Anda punya Rp 1 juta, mungkin itu bisa Anda depositokan. Anda akan dapat
bunga, dan bunga itulah tambahan penghasilan Anda.

Anda punya barang yang tidak Anda pakai? Perabot misalnya? Kenapa Anda
tidak menjualnya dan menginvestasikan uangnya dengan membeli emas,
misalnya. Setelah satu dua tiga tahun, mudah-mudahan saja harga emas itu
naik. Nah, selisih kenaikan harga itu adalah tambahan penghasilan bagi
Anda.

Bagi Anda yang masih lajang (tidak punya tanggungan) dan tinggal di
rumah sendiri, kenapa Anda tidak kos saja dan mengontrakkan rumah Anda?
Dengan demikian, Anda akan mendapatkan tambahan penghasilan dari
pemasukan sewa rumah setiap bulan atau setiap tahunnya. Atau kalau rumah
Anda agak besar, kenapa Anda tidak menyewakan satu dua kamar di
antaranya untuk dijadikan kos-kosan kecil-kecilan? Anda akan dapat
pemasukan tambahan dari uang kosnya, kan?

Yang Penting Kemauan

Mencari Penghasilan Tambahan sebetulnya tidak sulit. Yang penting Anda
punya kemauan. Bila Anda tidak memiliki kemauan untuk mau mendapatkan
penghasilan tambahan, maka cara apa pun yang ditunjukkan kepada Anda
akan sulit Anda terima.

Jadi, semua berawal dari kemauan. Jika memang tidak ada kemauan, ya,
keadaan Anda tetap seperti sekarang. Tapi bila Anda memang mau, Anda
punya 4 pilihan untuk mendapatkan penghasilan tambahan seperti di atas.
Silakan pilih yang mana.

Disadur dari Artikel Tabloid NOVA No. 673/XIII
Judul: Mencari Penghasilan Tambahan
Oleh: Safir Senduk

Selamat Mencari Penghasilan Tambahan

My Partners