Archive for the 'Perencanaan Keuangan' Category

Menghitung Perkiraan Biaya Pendidikan

MENGHITUNG PERKIRAAN BIAYA PENDIDIKAN

Oleh: Safir Senduk

Ketika beberapa hari lalu saya berbicara di sebuah seminar di Surabaya, saya kaget ketika seorang peserta seminar bercerita tentang mahalnya biaya masuk kuliah dari sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Jumlahnya tidak usah saya ceritakan berapa, tapi yang jelas sangat mahal. Padahal, itu baru uang masuknya doang.

Hal ini membuat saya semakin yakin bahwa yang namanya Biaya Pendidikan harus dipersiapkan sejak sekarang. Betul, memang tidak semua Biaya Pendidikan itu mahal. Bervariasinya bentuk sekolah, terutama sekolah yang jenjangnya sudah cukup tinggi seperti Sekolah Tinggi, Akademi atau Universitas, membuat tidak semua standar biaya bisa sama. Jangankan pendidikan tinggi, jenjang sekolah yang lebih rendah seperti SD, SMP dan SMU saja bisa bervariasi biayanya satu sama lain. Itulah karenanya beberapa di antara Anda ada yang merasa mampu untuk membayar biaya pada Sekolah A, tetapi tidak mampu untuk membayar biaya pada Sekolah B yang harganya lebih mahal.

Namun demikian, perlu diketahui bahwa bukan berarti Sekolah A yang biayanya dinilai murah tersebut akan tetap sama murahnya pada tahun-tahun mendatang. Ini karena yang namanya Biaya Pendidikan pasti akan naik terus dari tahun ke tahun. Jadi, kalaupun sekarang ada sekolah yang biaya pendidikannya dirasa tidak mahal, tetapi karena biaya tersebut naik terus tiap tahun, jatuh-jatuhnya pasti mahal.

Saya beri contoh sederhana saja: anggap saja sekarang anak Anda berusia 3 tahun. Pertanyaannya gampang, kalau sekarang Uang Pangkal SMU adalah Rp 4 juta, dan usia rata-rata seseorang masuk SMU adalah ketika pada usia 15 tahun, apakah nantinya Anda akan membayar jumlah yang sama ketika nantinya anak Anda masuk SMU sekitar 12 tahun lagi?

Pasti beda, karena nantinya Biaya Pendidikan tersebut pasti akan jauh lebih mahal.

CARA MENGHITUNG

Lalu, bagaimana cara Anda bisa menghitung dan memperkirakan jumlah Biaya Pendidikan anak Anda kelak kalau biaya pendidikan selalu naik dari tahun ke tahun? Kan, Anda tidak tahu berapa persen jumlah kenaikannya setiap tahun?

Betul. Kita memang tidak bisa memperkirakan dengan pasti berapa jumlah Biaya Pendidikan anak kita kelak. Yang bisa kita lakukan adalah dengan menggunakan asumsi tertentu, dan berharap supaya pengandaian tersebut tidak meleset. Sebagai contoh, kita bisa menggunakan asumsi bahwa setiap tahun Biaya Pendidikan akan selalu naik sebesar 10 persen setiap tahun. Rata-rata.

Dengan demikian, kalau misalnya Uang Pangkal masuk SMU pada saat ini adalah Rp 4 juta, tahun depan bisa diperkirakan bahwa Uang Pangkal tersebut akan menjadi Rp 4.400.000,-. Darimana angka itu didapat? Gampang: Rp 4 juta + (10% x Rp 4 juta)

TINGGAL DIKALIKAN

Sebetulnya, selain cara di atas, Anda juga bisa memakai rumus: Rp 4 juta X 1,1.

Lho, kok 1,1? Dapat dari mana itu? Oh, itu sih cuma matematika sederhana. 1,1 kan sama dengan 10% di atasnya 100%. Jadi, 1,1 itu adalah bentuk desimal agar Anda lebih cepat dalam melakukan perkalian memperkirakan jumlah Biaya Pendidikan.

Tapi kalau Anda mau pakai pengandaian kenaikan Biaya Pendidikan 20% per tahun, maka Anda bisa menggunakan bentuk desimal 1,2. Kalau asumsi kenaikan Biaya Pendidikannya adalah 30% per tahun, gunakan bentuk desimal 1,3. Begitu seterusnya.

Nah, kembali ke contoh kenaikan 10% dalam satu tahun, maka apabila tahun ini Uang Pangkal masuk SMU adalah Rp 4 juta, maka tahun depan angka tersebut diperkirakan menjadi: Rp 4 juta x 1,1 = Rp 4.400.000.

Itu untuk tahun depan. Kalau untuk dua tahun ke depan bagaimana? Anda bisa melakukan perkalian tersebut diatas dengan cara mengulangnya sampai dua kali, seperti ini: Rp 4 juta x 1,1 X 1,1

Kalau untuk lima tahun ke depan bagaimana?

Ulang perkalian tersebut sampai lima kali, seperti ini: Rp 4 juta x 1,1 X 1,1 X 1,1 X 1,1 X 1,1. Kalau untuk 12 tahun ke depan? Ulang sampai duabelas kali. Begitu seterusnya.

Memang, yang namanya perkiraan Biaya Pendidikan seringkali tidak bisa dihitung dengan cara yang sesederhana itu. Tapi melakukan perkiraan jelas masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Dengan adanya angka perkiraan seperti yang sudah Anda pelajari di atas tadi, maka Anda bisa lebih mudah dalam melakukan persiapan. Ibarat Anda sedang bepergian, Anda tahu dengan pasti ke mana arah yang sedang Anda tuju.

Jadi, kalau Anda ingin mempersiapkan dana pendidikan untuk anak Anda, hal yang paling penting adalah dengan melakukan perhitungan tentang berapa perkiraan jumlah Biaya Pendidikan anak Anda kelak. Dengan demikian, akan lebih mudah bagi Anda untuk mengatur strategi agar siap bila tiba saatnya nanti.

Oleh: Safir Senduk

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 756/XIV

Sumber: http://www.perencanakeuangan.com/files/PerkiraanBiayaPendidikan.html

Membuka Usaha Sampingan

MEMBUKA USAHA SAMPINGAN

Oleh: Safir Senduk

Pada beberapa edisi lalu saya mengatakan ke-pada Anda bahwa untuk mendapatkan penghasilan tambahan ada empat cara yang bisa Anda lakukan. Yakni bekerja pada orang lain, bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian, membuka usaha sampingan, atau melakukan investasi.

Dari keempat hal tersebut, membuka usaha sampingan biasanya merupakan cara yang cukup baik untuk mendapatkan peng-hasilan tambahan. Dengan membuka usaha sampingan, pertama-tama Anda mungkin harus terlibat penuh didalamnya. Tapi lama kelamaan, bila usaha itu besar, Anda bisa menyerahkan pengelolaannya pada orang lain, sehingga Anda bisa punya lebih banyak waktu. Sementara pemasukan terus berjalan.

Bandingkan dengan apabila Anda bekerja pada orang lain atau bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian. Bekerja pada orang lain jelas Anda harus mengikuti jam kerja yang disyaratkan. Sedangkan bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian, biasanya Anda bisa menentukan waktu kerja Anda sendiri, tapi tetap saja Anda akan sibuk

PENGHASILAN BISA BESAR

Jangan salah kira, usaha sampingan, apabila Anda jalankan dengan sungguh-sungguh bisa memberikan hasil yang sama ­ bahkan lebih besar ­ dibanding bila Anda bekerja dan mendapatkan gaji.

Saya pernah memperhatikan tukang sate yang berjualan di dekat rumah saya. Setiap hari, dari jam 17.00 - 24.00 (7 jam kerja), ia bisa menjual sekitar 250 tusuk sate ayam. Kalau satu tusuk dihargai Rp 400, maka ini berarti ia mendapatkan Rp 100 ribu sehari. Dalam sebulan, ia bisa bekerja sekitar 25 hari. Ini berarti pemasukannya sebulan mencapai Rp 2,5 juta. Saya pernah tanya berapa sih keuntungannya dari Rp 2,5 juta itu? Dia bilang sekitar 60 persen. Ini berarti keuntungannya adalah Rp 1,5 juta setiap bulan. Itu belum termasuk keuntungan dari penjualan lontongnya.

Tentu saja Anda tidak harus jadi penjual sate bila Anda memang tidak mau. Anda bisa membuka usaha lain yang mungkin lebih Anda kuasai seluk-beluknya. Prinsipnya di sini adalah apa pun usahanya, kalau Anda jalankan dengan serius, hasilnya bisa besar.

Pada awalnya yang namanya usaha mungkin tidak akan selalu berjalan lancar. Penghasilannya mungkin belum seberapa. Tapi itu karena usaha Anda mungkin belum dikenal orang banyak. Namanya juga masih baru. Lama kelamaan, seiring dengan makin dikenalnya usaha Anda, usaha Anda pasti akan mulai berkembang, sehingga hasil yang Anda dapatkan makin besar pula.

Tukang sate tadi misalnya. Saya yakin, pertama kali ia membawa dagangannya, orang mungkin masih ragu-ragu untuk mencoba satenya, karena orang baru pertama kali melihat tukang sate ini. Tapi lama kelamaan, orang mulai memesan satenya, dan akhirnya orang ini identik dengan sate. Setiap kali ia lewat di depan rumah saya, saya langsung teringat akan satenya. Itu bukti bahwa usaha apa pun membutuhkan pengenalan.

Orang harus kenal lebih dulu dengan usaha Anda, apa pun usaha itu. Entah toko, entah restoran kecil, entah usaha jahitan. Mungkin pengenalannya makan waktu satu tahun, dua tahun, atau mungkin hanya beberapa bulan, tergantung bagaimana promosi Anda. Setelah kenal, barulah selebihnya tergantung pada kualitas produk Anda. Bila sekali saja konsumen tak suka, seterusnya mereka kapok membeli produk Anda. Apa pun jenisnya. Karena itu, Anda juga harus menjaga kualitas produk agar sesuai keinginan konsumen.

TIDAK HARUS MENINGGALKAN PEKERJAAN

Siapa bilang bahwa Anda harus meninggalkan pekerjaan tetap Anda sekarang bila Anda menjalankan usaha Anda? Anda tidak harus meninggalkan pekerjaan tetap Anda. Anda bisa menjalankan usaha Anda sambil Anda tetap bekerja di pekerjaan Anda sekarang.

Hitung-hitung, Anda nantinya akan punya pendapatan yang dobel kan? Pertama-tama, mungkin pendapatan usaha Anda masih jauh lebih kecil dibanding gaji dari pekerjaan Anda. Tetapi lama-lama, seiring dengan makin dikenalnya usaha Anda, usaha Anda akan makin maju, dan pendapatan usaha Anda siapa tahu akan meningkat dan bisa menyamai gaji Anda?

Kemudian, siapa tahu juga pendapatan usaha Anda bisa meningkat lagi dan melebihi gaji Anda? Saya banyak melihat contoh orang yang merintis usaha sambil tetap mempertahankan pekerjaannya. Lama-lama ketika usahanya makin sukses, pendapatan dari usahanya meningkat, dan jumlahnya jauh melebihi gajinya. Sehingga ia memiliki pilihan apakah ia akan mempertahankan kedua pendapatannya, atau meninggalkan pekerjaannya dan terjun total 100 persen ke dalam usahanya dengan harapan agar penghasilan dari usahanya bisa makin besar.

Bagi Anda yang menjadi ibu rumah tangga dan hanya suami yang bekerja, mungkin bisa lebih enak lagi. Anda merintis usaha Anda, sementara suami Anda tetap mendapatkan gaji dari pekerjaannya. Masing-masing dari Anda sekarang menghasilkan pendapatan bagi keluarga. Bukan begitu?

SIAP MELUANGKAN WAKTU

Kalau Anda menjalankan usaha Anda sambil masih tetap bekerja, maka Anda harus siap meluangkan waktu. Bagi Anda yang menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga, Anda harus siap menyisihkan sekitar ­ mungkin ­ 4 jam setiap hari untuk mengurus usaha baru Anda. Bagi Anda yang juga bekerja di kantor, mungkin Anda harus siap menjalankan usaha Anda pada malam hari. Terserah Anda. Yang jelas, Anda harus memiliki komitmen untuk mau menjalankan usaha Anda, dan jangan kaget kalau nanti Anda akan lebih capek dari biasanya. Ini wajar, karena Anda menjalankan dua pekerjaan sekaligus kan?

Tapi apa yang membuat Anda mau lebih capek dari biasanya? Apa yang membuat Anda mau repot-repot menjalankan usaha Anda? Ini karena Anda ingin agar usaha Anda bisa berkembang kelak dan pengelolaannya bisa Anda serahkan ke anak buah Anda sehingga Anda bisa punya lebih banyak waktu untuk keluarga Anda kelak sementara tetap men-dapatkan penghasilan. Jadi, Anda investasi waktu (mau lebih sibuk) sekarang, dengan harapan agar Anda mendapatkan waktu yang lebih banyak kelak. Jadi, sesibuk apa pun sekarang, kenapa Anda tidak luangkan waktu untuk merintis sebuah usaha?

PERLU DUKUNGAN KELUARGA

Minta dukungan dari keluarga Anda. Kalau perlu, ajak suami Anda untuk ikut membantu Anda. Libatkan suami Anda dari awal. Dengan demikian, suami Anda bisa ikut berperan dalam usaha Anda. Dukungan suami itu penting lo. Banyak usaha rumahan yang gagal karena tidak adanya dukungan suami.

Bukan berarti Anda tidak akan berhasil dalam usaha Anda bila tidak didukung suami, tapi memang akan sangat membantu kalau suami Anda ikut mendukung usaha Anda kan? Kalau perlu, jangan katakan pada suami bahwa ini adalah usaha Anda. Katakan padanya bahwa ini adalah usaha keluarga, bukan usaha Anda. Kelak kalau usaha ini besar, suami Anda bisa ikut terlibat di dalamnya. Bukankah akan mengasyikkan bila suami-istri bekerja bersama membangun usaha keluarga?

TIDAK HARUS SEKOLAH TINGGI

Apakah Anda adalah salah satu dari mereka yang tidak mengenyam sekolah tinggi? Apakah Anda cuma lulusan SMP? Apakah Anda cuma lulusan SMEA? Atau apakah Anda sama sekali tidak pernah sekolah dan hanya punya pengalaman?

Baca ini: Anda tidak harus mengenyam sekolah tinggi lebih dulu untuk bisa membuka usaha dan berhasil dalam usaha Anda. Kita sudah sering mendengar dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ada banyak orang berhasil dalam membangun usahanya dari nol, meski tidak memiliki pendidikan tinggi. Liputan di NOVA, baik rubrik Profil maupun Peristiwa, sering menampilkannya.

Apa resepnya sehingga mereka bisa berhasil? Ketekunan dan motivasi untuk bisa berhasil. Yang lebih penting, ia ­ walaupun tidak sekolah tinggi ­mau belajar. Belajar tidak harus ditempuh dengan sekolah. Anda bisa belajar dari pengalaman Anda, dari buku, dan dari pengalaman orang lain (baik keberhasilan maupun kegagalannya). Satu lagi, mereka mau memulai usahanya dari kecil lebih dulu, sebelum lama-lama usaha itu menjadi besar. Percayalah, Anda punya kesempatan yang sama dengan saya, dan dengan orang yang lain untuk bisa berhasil, walaupun Anda tidak memiliki pendidikan tinggi sekalipun.

Jadi tunggu apa lagi? Tetapkan tekad untuk membuka usaha sampingan. Sekarang juga.

Oleh: Safir Senduk

Dikutip dari Tabloid NOVA No. 675/XIII

Sumber: ttp://www.perencanakeuangan.com/files/UsahaSampingan.html

Bagaimana caranya investasi bila tak punya uang?

Bagaimana caranya investasi bila tak punya uang?

Membaca kembali buku Wink and Grow Rich tulisan Roger Hamilton (sudah
ada terjemahnya) menyegarkan kembali ingatan akan prinsip-prinsip
investasi. Buku ini menarik karena ditulis dalam bentuk cerita,
seperti halnya buku klasik Who Moved My Cheese.

Saya ingin investasi, tapi, saya nggak punya uang. Gimana ya?

Begitulah pertanyaan kebanyakan orang. Demikian pula pertanyaan
Richard, anak kecil yang ayahnya sedang sakit, dalam cerita itu.
Pertanyaan itu dibahas dengan bijak oleh tokoh si Tukang Ledeng (the
Plumber), seorang pengusaha yang bekerja dalam bisnis mengurus pipa air.

“Kalau tidak punya uang untuk diinvestasikan, maka investasikanlah
waktumu,” demikian pesan si Plumber. Ibarat tetes air, maka setiap
hari kita diberi bekal 24 tetes air untuk diinvestasikan. Kebanyakan
tetes tersebut dibelanjakan (spent) saja, dan luput untuk
diinvestasikan (invest).

Kebanyakan orang menghabiskan 24 jam setiap harinya untuk hal-hal
berikut : tidur, makan, mandi, kerja, santai, dan ngobrol-ngobrol.
Semua hal itu adalah waktu yang dibelanjakan. Loh, bukankah kerja
menghasilkan uang? Ya, kerja memang menghasilkan uang. Namun waktu
yang digunakan bekerja pada hakekatnya adalah waktu yang ditukarkan
dengan uang. Sifatnya berjangka pendek. Pekerjaan beres, Anda dibayar.
Selesai.

Orang-orang yang sukses sekarang ini, dulunya juga tidak punya uang
seperti kebanyakan orang lainnya. Bedanya, mereka menginvestasikan
waktunya, selain tentu ada yang dibelanjakan. Dimana mereka
menginvestasikan waktu? Ada dua tempat, satu adalah untuk menjalin
jaringan rekanan (network), dan ke dua untuk meningkatkan kemampuan
diri (myself).

Bagi seorang pengusaha pemilik bisnis, kegiatan sehari-hari ibarat
menginvestasikan waktu. Ketika dia menemui rekanan atau klien, dia
sedang membangun network. Ketika dia mencari solusi masalah klien, dia
sedang berinvestasi pada kemampuan diri.

Sebaliknya bagi karyawan, ketika dia mengerjakan tugas pekerjaan,
sebenarnya dia hanya menukarkan tenaganya untuk bayaran di akhir
bulan. Jadi ini hanya pertukaran. Orang yang ditemui ketika dia
bekerja dalam tugas bukanlah network dia (tapi network perusahaan),
jadi hal ini tidak disebut investasi.

Loh, bukankah ketika seorang karyawan mencari solusi buat klien itu
juga berarti investasi? Ya benar, bila hal tersebut meningkatkan
kemampuan diri. Tapi bisa juga tidak, bila kegiatan tersebut hanya
untuk digunakan dalam jangka pendek.

Kunci membedakan apakah kegiatan kita merupakan investasi atau sekedar
membelanjakan waktu adalah hasil jangka panjang. Kalau kegiatan itu
memberikan manfaat jangka panjang, maka itu adalah investasi waktu.
Kalau hasilnya hanya jangka pendek (tugas selesai lalu dibayar) maka
itu hanyalah pembelanjaan waktu, yaitu pertukaran waktu kita dengan
uang.
jam investasi

Bekerja sekaligus berinvestasi

Di setiap pekerjaan ada kesempatan berinvestasi waktu, yaitu ketika
secara sadar kita memilih untuk membangun network dan kemampuan diri.
Misalnya Anda hobi ngobrol-ngobrol. Kalau hanya ngobrol dengan teman
yang itu-itu saja, juga dengan topik sekitar gosip artis saja, maka
jelas itu sekedar membelanjakan waktu. Tapi kalau Anda ngobrol dengan
orang-orang baru, maka Anda sedang berinvestasi dengan network Anda.
Atau mungkin ngobrol dengan teman lama Anda, tapi ngobrol tentang
peluang usaha baru, kesempatan kerjasama, atau ngobrol tentang ilmu
yang bermanfaat buat mengelola keuangan keluarga Anda misalnya, maka
itu adalah investasi waktu.

Saya ingat kisah Peter Lynch, manajer investasi di Fidelity
Investment. Dia bercerita bahwa sewaktu mahasiswa dia mencari
penghasilan dengan menjadi caddy golf (tukang bantu membawa tongkat
golf). Waktu itu di tahun enam puluhan, dan sebagai caddy golf dia
bertemu dengan para jutawan yang hobinya main golf. Para jutawan itu
sering bicara tentang investasi, maka Peter pun mendapat info-info
gratis yang berharga. Suatu ketika dia mendengar bahwa saham Tiger
Airlines sedang mengalami peningkatan nilai. Maka dengan uang
sekedarnya Peter ikut-ikutan membeli saham Tiger Airlines. Ternyata
benar, saham Tiger Airlines naik cukup tinggi sehingga Peter pun
mendapat keuntungan besar. Selepas kuliah Peter kemudian masuk ke
perusahaan pialang saham, dan terus berkarir sehingga menjadi pemimpin
di Fidelity Investment. Peter bekerja sambil berinvestasi waktu. Dia
berinvestasi mendekati dunia kaum investor sehingga mendapat peluang
dari network (tak langsung) tersebut.

Saya ingat juga kisah seorang teman saya. Dia rajin silaturrahmi
menjalin network dengan banyak orang. Suatu ketika dia menghubungkan
dua pihak untuk transaksi pembelian alat senilai sekitar 125 ribu
dolar. Dia hanya menghubungkan saja tanpa berharap banyak transaksi
tersebut terjadi. Eh, ternyata transaksi tersebut benar terjadi.
Tiba-tiba dia diberi fee senilai 8000 dolar (kira-kira 70 juta
rupiah). Saya kira bagi kebanyakan orang nilai tersebut diraih dengan
berbulan-bulan (atau bertahun-tahun) menabung. Sedangkan teman saya
meraihnya dalam beberapa jam menjadi pialang. Membangun network adalah
bentuk investasi waktu yang sangat baik.

Demikian pula kisah seorang satpam di sebuah perusahaan minyak
nasional. Sambil tugas malam, ketika rehat dari berkeliling, dia
membuat corat-coret desain ukiran kayu semacam bebek-bebek kayu.
Beberapa tahun kemudian dia mengundurkan diri setelah punya gift shop
di Kemang dan Plaza Indonesia. Dia telah menginvestasikan waktu untuk
kemampuan diri, sementara banyak rekan satpam lainnya hanya
membelanjakan waktu untuk pertukaran dengan uang.

Sebuah kisah nyata yang lain. Seorang pengusaha membuka warung `sate
banteng’, yaitu sate yang memakai daging sapi. Beberapa lama kemudian
pemilik warung tidak lagi terlalu berminat untuk mengembangkan warung
tersebut. Seorang karyawannya di bagian pembakar sate berminat dengan
resep yang digunakan. Maka karyawan tadi kemudian mendirikan warung
`sate banteng’ dan serius menekuninya. Ternyata laris manis. Warungnya
berkembang makin besar, bahkan bisa diwariskan ke anaknya. Karyawan
ini berhasil menginvestasikan waktunya untuk belajar membuat sate
banteng yang enak. Ilmunya digunakan untuk membuat produk yang
bernilai jual. Manfaat ilmunya dirasakan dalam jangka panjang sampai
anak cucu.

Mari kita pikirkan sejenak. Dalam sehari ini, berapa jam telah kita
investasikan untuk membangun network kita? Berapa jam pula telah kita
investasikan untuk diri kita (meningkatkan kemampuan diri yang
bernilai jual)? Nihil? Tidak sejam pun? Pantaslah kalau hidup kita tak
maju-maju.

Waktu yang Anda pakai bekerja adalah waktu yang Anda belanjakan. Waktu
yang Anda pakai untuk membangun network dan meningkatkan nilai jual
diri, itulah waktu yang Anda investasikan.

Bagaimana dengan waktu Anda untuk membaca blog? Investasi atau belanja
nih?

Sumber:
http://sepia.blogsome.com/2008/03/22/bagaimana-caranya-investasi-bila-ta
k-punya-uang/

Pandangan dan Pemahaman terhadap Tulisan-tulisan Kiyosaki

Tulisan-tulisan Kiyosaki kalo menurut saya sangat bagus, walaupun tidak
semua yang di tulis itu berdasarkan fakta.
Ini ada artikel bagus yang di buat oleh mas Budi Rachmat yang dia
kirimkan ke salah satu milis.

Berikut ini isi artikel nya, silakan disimak dan dikomentari..

Ini pandangan saya pribadi…. dan pemahaman saya pada tulisan2
Kiyosaki.

Saya tidak mempermasalahkan…
… apakah berstatus pegawai… kuadran E…
… apakah berstatus self employee….. S…
… apakah berstatus bisnis owner…… B…
… apakah berstatus investor………. I…

Fokus saya pada INCOME…., bukan STATUS….

Menurut pemahaman saya… klo income kita hanya berasal dari 1 (SATU)
sumber, dari kuadran manapun, maka kita adalah orang yang paling
beresiko….

Kalo….
… pegawai aja……… beresiko di PHK…….
… self employee aja… beresiko merugi…….
… bisnis-owner aja…. beresiko bangkrut…..
… investor aja…….. beresiko juga ya ga…

Saya “melihat” teori kuadran E,S,B dan I dari Kiyosaki dari 2 sudut,
yaitu..

PERTAMA….
Dilihat dari WAKTU yang diperlukan untuk mendapatkan
income/pendapatan…
… ada yang HARUS, untuk memperoleh income, secara
AKTIF…. tapi…
… ada yang BISA, untuk memperoleh income, secara
PASIF….

Yang AKTIF… artinya pendapatan tersebut berhubungan
dengan waktu yang kita gunakan….
HARUS kerja 8 jam sehari, 5 hari seminggu, 4 minggu sebulan…
(baru) dapet gaji…. ini adalah pendapatan AKTIF…..
yaitu pendapatan dari kuadran E dan S.

Masalahnya kalo dalam sehari… klo dalam 24 jam…
kita HARUS meluangkan waktu sebesar 8 jam untuk mendapatkan
pendapatan/income tsb… trus berapa sisa waktu
yang masih “free” untuk sumber income lainnya…???

Yang PASIF… artinya pendapatan tersebut tidak
berhubungan dengan waktu yang kita gunakan (untuk bisnis tsb)….
atau tanpa meluangkan waktu untuk pekerjaan tsb tapi tetap dapet
pendapatannya….
contohnya pendapatan saya dari Alfamart….
saya tidak perlu meluangkan waktu di bisnis ini…
si master franchise yang akan meluangkan waktu untuk me-”run”
bisnis tsb… ini adalah pendapatan PASIF…..
antara lain pendapatan dari kuadran B dan I.

LALU… walaupun sudah punya PASIF income…
dan punya waktu luang…
saya tetap mengisi waktu luang tersebut….
dengan mencari pendapatan lainnya…
dari kuadran E (klo perlu), S atau dari B (lagi) atau dari I….
karena saya perlu mengisi WAKTU LUANG saya.

Jika anda ingin mengisi waktu luang tersebut dengan
main2 aja… tidur2an aja… ya, silakan aja.

KEDUA….
Dilihat dari sudut “KEAMANAN” pendapatan/income….

Kalo saya sudah punya income/pendapatan PASIF dari
Alfamart… apakah kerjaan saya tiap hari tidur2an aja?…..
ga juga…. karena…

(1) tidak ada yang dapat menjamin bahwa bisnis Alfamart
saya akan pasti selalu untung…. dan…
(2) saya punya target pendapatan yang lebih besar
daripada hanya pendapatan saya dari Alfamart aja…

Sekarang…
… saya sudah punya PASIF income….
… saya punya waktu luang………..

Dengan kondisi ini, pikiran saya menjadi tenang…
… untuk mencari kesempatan2 lainnya………….
… untuk mencari sumber2 income lainnya……….
… untuk menciptakan sumber2 income baru………
jadilah apa yang disebut MULTIPLE SOURCE OF INCOME….

Profile income saya, yaitu dari…
… kuadran E… tidak ada, alias nol…
… kuadran S… 2 sumber income……..
… kuadran B… 2 sumber income……..
… kuadran I… 2 sumber income……..

Klo 1 sumber income “hilang”…. masih ada 5 lagi…
Klo 2 sumber income “hilang”…. masih ada 4 lagi…
Klo 6 sumber income “hilang”…. ????

Bayangkan… kalo sumber incomenya hanya 1….
sangat… sangat beresiko khan….!!!

JADI dengan memiliki multiple source of income….
“keamanan” pendapatan relatif lebih baik daripada hanya punya 1 sumber
income/pendapatan (dari kuadran manapun income itu diperoleh).

Bagaimana saya mengatur waktu saya dengan 6 sumber income tsb…???
Kan yang dari kuadran B dan I adalah Pasif Income…
dimana saya tidak perlu meluangkan waktu saya untuk mendapatkan income
ini.

Jadi….
… be a worker..? good or bad..?
… I don’t care. It’s not important… but please make
sure that you have income…

Semoga bermanfaat.

Salam,
budi_rachmat@yahoo.com

Penghasilan dan Faktor Pendukungnya

Penghasilan dan Faktor Pendukungnya
Oleh: Safir Senduk
Dikutip dari detikcom

Bila pada saat ini Anda bekerja, apakah Anda sering merasa tidak puas
dengan penghasilan yang Anda dapatkan? Padahal, Anda merasa sudah
berbuat banyak di pekerjaan Anda. Pertanyaannya sekarang, layakkah bila
Anda merasa tidak puas?

Dua orang manajer yang bekerja di lain perusahaan tetapi sama
pekerjaannya, bisa saja memiliki penghasilan yang berbeda. Kadang, ini
memicu rasa ketidakpuasan dari manajer yang berpenghasilan lebih kecil.
Akibatnya jelas, mutu pekerjaan mungkin jadi merosot.

Dan jangan lupa, penghasilan yang Anda dapatkan pada dasarnya akan
mempengaruhi Standar Hidup Anda.

Apa sebetulnya hal-hal yang mempengaruhi besar kecilnya penghasilan yang
diterima seseorang? Sebetulnya ada beberapa. Namun demikian, hal
tersebut biasanya berkaitan langsung dengan pendidikan yang pernah
ditempuh, pekerjaan yang dia jalani, berapa umurnya pada saat ini,
berapa besar hartanya, dan bahkan dimana tempat tinggalnya.

Pendidikan

Statistik menunjukkan, orang yang menempuh pendidikan lebih tinggi
cenderung menghasilkan lebih banyak uang daripada mereka yang tidak. Ini
seringkali membutakan, mata masyarakat yang akhirnya cenderung
menganggap bahwa seseorang tidak akan mendapatkan penghasilan tinggi
sebelum mereka menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Ini tentu saja
merupakan mitos yang salah.

Yang benar adalah pendidikan yang tinggi bisa membantu seseorang untuk
mendapatkan penghasilan yang lebih besar, meski hal itu bukan
satu-satunya jaminan. Kita banyak melihat para wiraswastawan yang tidak
lulus pendidikan tinggi bisa mendapatkan penghasilan yang besar. Namun
demikian, kebanyakan dari mereka yang memiliki pendidikan tinggi
biasanya berpenghasilan lebih besar.

Pekerjaan

Penghasilan seseorang juga berkait erat dengan pekerjaan yang dia
lakukan. Disinilah kita mengenal istilah white collar worker dengan blue
collar worker. Pekerja kerah putih (mereka yang lebih banyak menggunakan
pikirannya dalam bekerja) biasanya menghasilkan lebih banyak uang
daripada mereka yang berkerah biru (mereka yang lebih banyak menggunakan
tenaganya).

Umur

Penghasilan seseorang juga berkait erat dengan umurnya. Mereka yang
masih berumur 25 tahun ke bawah cenderung berpenghasilan lebih rendah
daripada mereka yang sudah berumur di atas 25 tahun, bahkan di atas 35
tahun. Semakin tua umur seseorang, biasanya penghasilannya akan menjadi
lebih tinggi. Ini masuk akal mengingat pengalaman seseorang dalam satu
bidang, apabila ditekuni dari tahun ke tahun akan membuat pengalamannya
bertambah, sehingga penghasilannya juga akan semakin bertambah.

Harta

Penghasilan seseorang pada dasarnya didapat dari upah dan juga hasil
investasi. Upah terdiri atas honor dan gaji, yang didapat seseorang
karena jasa atau pekerjaan yang dia lakukan. Tetapi penghasilan yang
kedua, adalah penghasilan yang didapat dari hasil investasi. Misal,
seseorang memiliki harta berupa uang tunai Rp 100 juta. Bila uang ini
diinvestasikan, akan memberikan penghasilan bunga yang rutin setiap
bulannya.

Semakin besar harta yang dia miliki, semakin besar pula penghasilan
bunganya atau hasil investasinya. Begitu juga bila seseorang memiliki
rumah, dia bisa menyewakannya kepada pihak lain, orang tersebut akan
mendapatkan hasil sewa. Jadi, semakin besar harta Anda, Biasanya akan
semakin besar pula penghasilan yang Anda terima. Selanjutnya penghasilan
tersebut bisa Anda gunakan untuk memperbesar harta Anda, yang pada
akhirnya bisa digunakan
untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Begitu seterusnya.

Tempat Tinggal

Tempat tinggal juga berpengaruh pada penghasilan seseorang. Dua orang
manajer yang sama, misalnya, baik umur maupun jenis pekerjaannya, bisa
saja berbeda penghasilannya bila mereka tinggal di dua kota yang
berbeda.

Faktor-faktor Lain

Selain faktor-faktor diatas, ada juga variabel lain yang biasanya
mempengaruhi penghasilan yang didapatkan seseorang seperti
keberuntungan, bakat, kerja keras, koneksi, dan diskriminasi.

Keberuntungan
Berada pada tempat dan waktu yang tepat kadang juga mempengaruhi
penghasilan dari dua orang yang berkemampuan sama. Bisa saja penghasilan
yang Anda dapatkan lebih tinggi bila perusahaan Anda memang sedang
membutuhkan Anda sebagai karyawan. Tetapi, hal yang berbeda bisa terjadi
bila kondisi perekonomian negara sedang jatuh, dan perusahaan Anda
sedang kekurangan order sehingga tidak bisa memberikan gaji tinggi
kepada karyawannya.

Bakat
Pada beberapa profesi, bakat juga berpengaruh besar. Seorang teman saya
yang arsitek mengakui bahwa bakat juga berpengaruh pada profesinya
tersebut, karena bisa jadi mutu kerjanya juga berbeda.

Kerja Keras
Beberapa orang ada yang tidak mau ngoyo dalam bekerja, tapi beberapa
yang lain justru bekerja lebih keras. Mereka berusaha sebaik-baiknya
untuk mengerjakan tugas yang diberikan. Harapannya jelas, yaitu
mendapatkan kenaikan jabatan dan otomatis mendapatkan kenaikan gaji.
Termasuk yang manakah Anda?

Koneksi
Kadang-kadang, koneksi juga berperan dalam penghasilan seseorang. Bisa
jadi, karena Anda punya koneksi yang bekerja sebagai kepala divisi
SDM/Personalia (yang mengurusi penerimaan pegawai), atau yang bekerja
sebagai kepala divisi keuangan (yang mengurusi pembagian gaji) di sebuah
perusahaan, maka hal itu bisa saja mempengaruhi jumlah penghasilan yang
Anda terima.

Diskriminasi
Diskriminasi sering juga mempengaruhi penghasilan seseorang. Di
Indonesia, diskriminasi ini sering dilakukan terutama berkaitan dengan
masalah jenis kelamin dan SARA. Dua orang yang berkemampuan sama, tetapi
berjenis kelamin berbeda, bisa jadi mempengaruhi besarnya penghasilan.
Begitu juga bila ada dua orang yang berkemampuan sama tetapi berasal
dari dua suku yang berbeda, kadang-kadang juga akan mempengaruhi
penghasilan yang
didapat.

Artikel Penghasilan dan Faktor Pendukungnya ini di ambil dari
http://www.perencanakeuangan.com
Diterbitkan oleh Safir Senduk dan Rekan.

My Partners