Archive for the 'Perencanaan Keuangan' Category

Pentingnya Punya Dana Cadangan

Pentingnya Punya Dana Cadangan

Seringkali dalam hidup terjadi suatu hal yang bersifat emergency yang
membutuhkan dana dalam waktu segera. Contohnya adalah ketika Anda di PHK
sehingga harus mengambil dana guna membiayai hidup selama masih belum
mendapatkan pekerjaan.
Itu contoh yang ‘besar’. Contoh kecilnya mungkin ketika anak Anda sakit
dan harus dirawat di RS yang mungkin membutuhkan dana.

Tetapi yang sering terjadi, banyak orang yang tidak memiliki dana
tersebut. Ini karena setiap kali mereka mendapatkan income, mereka
selalu menghabiskannya. Itulah sebabnya, seseorang yang mengalami PHK
umumnya mendapatkan apa yang namanya Uang Pesangon. Uang ini bisa
membiayai hidupnya selama tidak bekerja. Namun demikian, besarnya
pesangon tersebut seringkali dirasakan tidak mencukupi bagi mereka yang
mendapatkannya.

Jadi, tak perlu dikatakan lagi, penting sekali memiliki persediaan dana
dalam rekening Anda, yang bisa digunakan sebagai dana cadangan untuk
membiayai hidup Anda apabila terjadi sesuatu. Karena itu, persediaan
dana ini disebut Dana Cadangan.

Besar Dana Cadangan yang dibutuhkan

Jumlah Dana Cadangan yang dibutuhkan sangat tergantung dari seberapa
besar pengeluaran Anda setiap bulan, dan seberapa stabilnya penghasilan
Anda.

Sebagai contoh, bila Anda bekerja dan mendapatkan penghasilan (berupa
gaji) sebesar Rp 2 juta per bulan, dan memiliki pengeluaran sebesar Rp
1,5 juta per bulan, maka Anda membutukan jumlah Dana Cadangan sebesar
tiga sampai enam bulan pengeluaran Anda. Ini berarti, Anda harus
memiliki Dana Cadangan sebesar Rp 4,5 s/d 9 juta dalam rekening Anda
sebagai persediaan apabila Anda harus mengalami kehilangan penghasilan.

Tetapi, bila penghasilan yang Anda dapatkan tidak stabil, seperti komisi
yang jumlahnya tidak tetap, maka jumlah Dana Cadangan yang saya sarankan
adalah sebesar 12 bulan pengeluaran bulanan. Ini berarti, bila
pengeluaran Anda mencapai Rp 1,5 juta per bulan, maka Anda harus
memiliki Dana Cadangan sebesar Rp 18 juta dalam rekening. Jadi intinya
di sini, semakin besar risiko tidak berpenghasilan dalam pekerjaan Anda,
semakin besar juga jumlah Dana Cadangan yang sebaiknya Anda miliki.

Di mana Dana Cadangan harus disimpan?

Pertanyaannya sekarang, di mana Anda harus menaruh Dana Cadangan Anda?
Ada dua kategori yang harus dipenuhi sebagai tempat menyimpan Dana
Cadangan tersebut:

-Aman (Anda tidak akan kehilangan uangnya dan jumlahnya tidak berkurang)

-Likuid (Anda bisa mengambilnya kapanpun tanpa dikenakan penalti).

Tentunya, deposito merupakan tempat yang aman bagi uang Anda, karena
jumlah uang yang Anda masukkan tidak akan berkurang. Tetapi, deposito
tidak likuid karena Anda tidak bisa mengambilnya kecuali bila sudah
jatuh tempo. Bila belum jatuh tempo, maka Anda akan dikenakan penalti
bila akan mengambil uang itu.

Hanya ada empat tempat yang bisa Anda gunakan untuk menyimpan Dana
Cadangan Anda:
- Lemari Anda
- Tabungan di Bank
- Giro di Bank
- Reksa Dana Pasar Uang

Namun demikian, bila jumlah Dana Cadangan Anda memang dirasakan cukup
besar, maka mungkin tidak apa-apa untuk memasukkannya sebagian ke dalam
deposito, asalkan dengan masa jatuh tempo yang tidak terlalu lama, yaitu
satu atau tiga bulan.

Jangan Memiliki Dana Cadangan Terlalu Banyak

Batasi jumlah Dana Cadangan Anda sampai sebesar 12 bulan pengeluaran
bulanan Anda. Ini karena Dana Cadangan Anda akan disimpan dalam tempat
yang bunganya kecil, atau di tempat yang tidak menghasilkan bunga sama
sekali (kalau menyimpannya di lemari). Sehingga, apabila Anda memiliki
jumlah Dana Cadangan yang terlalu besar, maka ini berarti sebagian dari
dana Anda tidak akan produktif.

Bila Belum Memiliki Dana Cadangan

Bila Anda pada saat ini belum memiliki Dana Cadangan, maka tak ada jalan
lain bagi Anda kecuali dengan menabung. Anda bisa menyisihkan sebagian
kecil dari penghasilan Anda, yang bisa dilakukan di muka setiap kali
mendapatkan penghasilan.

Dengan ‘menumpuk’ dana sedikit demi sedikit, maka pada akhirnya Anda
akan memiliki jumlah Dana Cadangan yang Anda butuhkan. Jadi, Dana
Cadangan itu mungkin tak akan langsung terkumpul, tetapi harus menunggu
selama tiga, enam atau bahkan duabelas bulan. Ini tentunya masih lebih
baik daripada Anda tidak memiliki Dana Cadangan sama sekali.

Oleh: Safir Senduk (http://www.perencanakeuangan.com)
Dikutip dari detikcom

***

Terima kasih untuk mas Safir Senduk dan SSR-Klub nya.

Mudah-mudahan seri artikel perencanaan keuangan ini bermanfaat buat
temen-temen semua, dan semakin memahami mengenai Pentingnya Punya Dana
Cadangan.

Mencari Penghasilan Tambahan

Mencari Penghasilan Tambahan pernah saya sarankan dalam artikel-artikel
sebelum nya dan sebaiknya Anda mulai mencoba untuk mencari penghasilan
tambahan ini secepatnya, kalau bisa dalam tahun ini juga.

Kenapa sih Anda perlu mencari penghasilan tambahan?

Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya (dan seringkali saya
ulang-ulang), bahwa salah satu kunci kesejahteraan keuangan dalam
keluarga sebetulnya bukanlah di seberapa besar jumlah penghasilan Anda,
tapi bagaimana Anda mengelola penghasilan tersebut. Berapapun besarnya
penghasilan dalam keluarga Anda, kalau Anda tidak bisa mengelolanya
dengan baik, maka kesejahteraan tidak akan bisa Anda raih.

Namun demikian, apakah Anda sebaiknya tidak usah menambah penghasilan
dalam keluarga Anda? Tidak juga. Penghasilan yang besar memang tidak
menjamin bahwa keluarga Anda bisa mencapai kesejahteraan keuangan, tapi
penghasilan yang besar bisa membantu keluarga Anda mencapai
kesejahteraan.

Jadi sekali lagi, penghasilan yang besar tidak menjamin, tetapi hanya
membantu. Karena itu, akan lebih baik kalau Anda bisa menambah sumber
penghasilan Anda.

Ada sejumlah cara untuk mencari penghasilan tambahan dalam keluarga
Anda:

1. Bekerja sebagai karyawan
2. Bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian
3. Menjalankan Usaha Sampingan
4. Berinvestasi

Bekerja Sebagai Karyawan

Anda bisa mencari penghasilan tambahan dengan bekerja di sebuah
perusahaan. Anda bisa bekerja sebagai seorang sekretaris, karyawan
bagian pembukuan, administrasi, atau apa pun itu. Yang penting, Anda
mendapatkan gaji. Jadi kalau pada saat ini Anda tidak bekerja dan hanya
pasangan Anda yang bekerja (sebagai karyawan juga misalnya), maka dengan
sekarang Anda juga bekerja sebagai karyawan, maka akan ada dua gaji
dalam keluarga Anda.

Atau, kalau misalnya pada saat ini Anda sudah bekerja sebagai seorang
karyawan, mungkin Anda bisa menjadi karyawan juga di tempat lain. Jadi
Anda mendapatkan dua gaji. Seorang teman saya bekerja di sebuah
perusahaan dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Sedangkan malamnya dia
juga bekerja di sebuah restoran dari jam 6 sore sampai jam 10 malam. Dia
mendapatkan dua gaji dalam sebulan.

Apa sih kelebihan dan kekurangannya dengan bekerja sebagai karyawan?
Yang jelas, bekerja sebagai karyawan memang enak, karena Anda tinggal
datang, bekerja, dan pada akhir bulan mendapatkan gaji. Anda cuma perlu
menuruti aturan jam kerjanya saja.

Kekurangannya, tentu saja, bahwa kalau Anda tidak bekerja, Anda tidak
akan mendapatkan gaji. Sederhana sekali. Itulah sebabnya banyak orang
yang sudah berusia 50 - 60 tahun tetapi masih tetap bekerja sebagai
karyawan karena takut tidak mendapatkan gaji lagi bila dia tidak
bekerja.

Bekerja Sendiri dengan Mengandalkan Keahlian

Kalau Anda punya keahlian khusus, Anda bisa bekerja dan mendapatkan
honor dari situ. Contohnya, kalau Anda bisa menyanyi, Anda bisa menyanyi
di pesta-pesta dan mendapatkan honor. Mungkin Anda bisa mengajar? Yah,
kalau Anda bisa mengajar, Anda bisa mengajar dan mendapatkan honor.

Bekerja sendiri harus dibedakan dengan bekerja sebagai karyawan. Sebagai
karyawan Anda mendapatkan gaji, sedangkan di sini Anda tidak mendapatkan
gaji, tetapi mendapatkan honor. Contoh mereka yang bekerja dengan
mengandalkan keahlian dan mendapatkan honor pada umumnya adalah artis
yang main sinetron, atau dokter dan arsitek yang membuka praktek sendiri
dengan mendapat bayaran dari pasien atau kliennya.

Kalau Anda perhatikan, sebetulnya hampir setiap orang punya keahlian
atau keterampilan khusus yang bisa dijual. Masalahnya di sini adalah
apakah Anda berani menjadikan keahlian atau keterampilan yang Anda
miliki itu untuk bisa dijual kepada khalayak?

Kelebihan bekerja sendiri dengan mengandalkan keahlian adalah bahwa Anda
akan mendapatkan penghasilan yang memang sesuai dengan keahlian Anda.
Artinya, Anda akan termotivasi untuk lebih memperdalam keahlian Anda
sehingga akan mendapatkan bayaran yang lebih. Kekurangannya adalah,
kalau Anda tidak bekerja (absen), Anda tidak akan mendapatkan bayaran.

Menjalankan Usaha Sampingan

Kenapa Anda tidak mencoba menjalankan sebuah usaha sampingan? Anda bisa
membuka toko atau warung. Anda bisa buka biro jasa yang menjual segala
macam jasa. Mungkin juga sebuah usaha jahitan. Kenapa Anda tidak
mencobanya?

Yang penting di sini, usaha sampingan tersebut suatu saat kelak bisa
Anda serahkan pengelolaannya kepada anak buah yang Anda percayai,
sehingga Anda tidak perlu terlibat terus di dalamnya seumur hidup Anda.
Toko misalnya. Anda mungkin bisa membuka sebuah toko yang menjual
barang-barang kebutuhan sehari-hari. Setelah beberapa bulan, Anda kan
bisa menyerahkan pengelolaannya kepada anak buah Anda (yang Anda gaji
tentunya), sehingga Anda bisa enak nonton teve di rumah tapi bisa tetap
mendapatkan hasil keuntungan dari toko tersebut tiap bulannya. Inilah
yang menjadi kelebihan dari menjalankan usaha sendiri.

Mungkin Anda berpikir bahwa untuk bisa berhasil dalam usaha perlu modal
uang yang cukup besar. Tapi Anda boleh tidak percaya, kesuksesan sebuah
usaha seringkali tidak tergantung pada besarnya modal Anda. Silakan
toleh di sekeliling Anda, ada banyak orang yang berhasil dalam usahanya
dengan modal yang hanya sedikit. Yang paling penting di sini adalah ide.

Ada memang beberapa usaha yang membutuhkan modal awal yang cukup besar,
tapi banyak juga bidang usaha yang tidak membutuhkan modal awal yang
terlalu besar. Yang paling penting di sini adalah bagaimana Anda bisa
“mengakali” jumlah uang yang Anda miliki sekarang agar cukup untuk bisa
menjalankan ide bisnis di kepala Anda. Dengan menjalankan sebuah usaha,
Anda otomatis lebih terlatih untuk bisa mandiri dan bertahan hidup.
Itulah
yang menjadi salah satu kelebihan lain dari menjalankan usaha sendiri.

Berinvestasi

Anda punya uang berlebih? Kenapa tidak menginvestasikannya saja? Jika
Anda punya Rp 1 juta, mungkin itu bisa Anda depositokan. Anda akan dapat
bunga, dan bunga itulah tambahan penghasilan Anda.

Anda punya barang yang tidak Anda pakai? Perabot misalnya? Kenapa Anda
tidak menjualnya dan menginvestasikan uangnya dengan membeli emas,
misalnya. Setelah satu dua tiga tahun, mudah-mudahan saja harga emas itu
naik. Nah, selisih kenaikan harga itu adalah tambahan penghasilan bagi
Anda.

Bagi Anda yang masih lajang (tidak punya tanggungan) dan tinggal di
rumah sendiri, kenapa Anda tidak kos saja dan mengontrakkan rumah Anda?
Dengan demikian, Anda akan mendapatkan tambahan penghasilan dari
pemasukan sewa rumah setiap bulan atau setiap tahunnya. Atau kalau rumah
Anda agak besar, kenapa Anda tidak menyewakan satu dua kamar di
antaranya untuk dijadikan kos-kosan kecil-kecilan? Anda akan dapat
pemasukan tambahan dari uang kosnya, kan?

Yang Penting Kemauan

Mencari Penghasilan Tambahan sebetulnya tidak sulit. Yang penting Anda
punya kemauan. Bila Anda tidak memiliki kemauan untuk mau mendapatkan
penghasilan tambahan, maka cara apa pun yang ditunjukkan kepada Anda
akan sulit Anda terima.

Jadi, semua berawal dari kemauan. Jika memang tidak ada kemauan, ya,
keadaan Anda tetap seperti sekarang. Tapi bila Anda memang mau, Anda
punya 4 pilihan untuk mendapatkan penghasilan tambahan seperti di atas.
Silakan pilih yang mana.

Disadur dari Artikel Tabloid NOVA No. 673/XIII
Judul: Mencari Penghasilan Tambahan
Oleh: Safir Senduk

Selamat Mencari Penghasilan Tambahan

Siklus Investasi Sepanjang Usia

Menentukan komposisi aset investasi yang Anda miliki, memilih saham
yang menjadi andalan dan toleransi Anda terhadap risiko, merupakan
hal-hal yang penting dalam sebuah perencanaan investasi. Tujuan
keuangan jangka panjang serta berapa lama waktu yang Anda miliki untuk
mencapainya lebih penting lagi dalam sebuah proses investasi.

Apa tujuan keuangan keluarga Anda? Tentunya setiap individu atau
keluarga memiliki prioritas masing-masing. Akan tetapi, individu yang
berada dalam batas usia yang sama, kecenderungan untuk menghadapi
permasalahan atau memiliki tujuan keuangan yang relatif sama. Oleh
karena itu dalam pembahasan kali ini kami mencoba untuk memberikan
gambaran umum, tujuan keuangan atau investasi yang dilakukan individu
dalam beberapa batas usia.

Usia 20-an dan 30-an

Dalam batas usia 20-an sampai 30-an, Anda mungkin memiliki banyak
impian yang ingin dicapai, tapi terbentur dengan keterbatasan dana
yang dimiliki. Anda ingin menyekolahkan anak-anak Anda ke sekolah yang
memiliki reputasi baik. Anda ingin membeli rumah, di mana keluarga
dapat bertumbuh dan berkembang. Anda juga ingin pensiun lebih awal
dari kebanyakan orang. Hal ini semua terkadang membuat Anda seperti
kelebihan beban. Bagaimana Anda dapat memulai langakah ini?

Langkah awal dalam memulai perencanaan bila Anda berada dalam batas
usia ini adalah melihat kembali dana darurat yang Anda miliki.
Menempatkan dana untuk digunakan dalam keadaan darurat sepertinya
tidak menguntungkan, terutama bila Anda banyak mendengar investasi
yang memberikan tingkat pengembalian yang tinggi.

Tapi harus diingat, sebelum Anda terjun ke dalam proses investasi,
Anda harus memiliki dana darurat yang cukup bila terjadi sesuatu,
seperti Anda sakit dan harus dirawat di rumah sakit atau Anda di PHK
perusahanaan. Sebaiknya Anda memiliki minimal antara 3 sampai 6 bulan
biaya pengeluaran bulanan yang Anda alokasikan sebagai dana darurat.

Penempatan dana ini sebaiknya dalam investasi dengan tingkat
likuiditasnya tinggi. Tabungan, deposito maupun reksadana pasar uang,
dapat menjadi bagian alternatif penempatan. Tentunya, jenis investasi
ini juga dapat menjadi tempat untuk dana yang Anda butuhkan kurang
dari 3 tahun. Bila Anda ingin membeli rumah dalam 2 tahun ke depan,
mungkin sebaiknya Anda menempatkannya dana uang muka Anda dalam
jenis-jenis investasi tersebut.

Waktu Adalah Sahabat

Untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang, seperti mempersiapkan
dana pendidikan bagi anak-anak Anda dan dana pensiun, Anda harus
mengumpulkan sejumlah kekayaan atau aset yang besar. Kesempatan
terbaik Anda adalah dengan menginvestasikan dana dalam saham atau
reksadana saham secara regular. Walaupun Anda memiliki keterbatasan
dana untuk diinvestasikan, Anda memiliki satu hal yang sangat bernilai
yaitu waktu. Bila Anda memulai untuk investasi di usia muda misalkan
20-an, Anda memiliki keuntungan atau keunggulan dari mereka yang
memulainya di usia 40-an.

Sebagai contoh, bila Anda memulai di usia 30 investasi Rp
100,000/bulan secara regular, Anda akan mengumpulkan hampir Rp 400
juta atau lebih tepatnya Rp 379,663,805 di saat usia Anda 65 tahun,
dengan asumsi tingkat pengembalian 10 persen. Akan tetapi bila Anda
menundanya sampai usia Anda memasuki 45 tahun, target jumlah Rp.
379,663,805 menjadi sangat memberatkan. Dari perhitungan untuk
mencapai nilai tersebut Anda harus investasi hampir Rp 500,000 atau Rp
499,975/bulan sampai usia Anda 65 tahun.

Pertanyaan selanjutnya, berapa besar yang seharusnya dialokasikan
untuk tujuan dana pensiun? Bila Anda menginginkan pensin lebih
dini?misalkan di usia 55 tahun?sangat penting bagi Anda untuk
memulainya dengan jumlah atau persentasi yang cukup besar, yaitu
sekitar 20 persen dari pendapatan bersih bulanan. Secara umum, minimal
Anda mengalokasikan 10 persen dari penghasilan bersih untuk tujuan
dana pensiun.

Bila Anda tidak sanggup untuk menyisihkan 10 persen Anda dapat
memulainya hanya dengan 5 persen atau malah 1 persen. Yang terpenting
di sini adalah Anda memulai melangkah untuk mencapai tujuan keuangan
yang diinginkan. Dan tingkatkan persentasinya bila Anda bisa.

Reksadana Saham/Campuran

Bila Anda memilih investasi coba Anda pelajari mengenai saham, baik
itu langsung di pasar modal maupun melalui perusahaan sekuritas dengan
reksadana saham atau campuran. Mengapa reksadana saham atau campuran?

Pertama, investasi dalam reksadana memiliki beberapa keunggulan,
kapital yang dibutuhakn rendah merupakan salah satunya. Hal ini sesuai
dengan kondisi Anda, di mana Anda hanya memiliki dana yang terbatas
untuk diinvestasikan.

Kedua, Anda dapat melakukan otomatisasi, di mana perusahaan reksadana
akan memotong langsung secara regular dari tabungan yang Anda miliki.
Ketiga, Anda juga bisa ikut bermain di pasar modal walau tidak
langsung dan memiliki kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang
cukup besar. Tapi ingat di sisi lain selalu ada risiko yang
menyelimuti. Oleh karena itu kami menganjurkan agar Anda mempelajari
seluk-beluk investasi di mana Anda akan bermain.

Bila Anda memulainya di usia muda dan melakukan secara regular, Anda
dapat mengurangi tingkat risiko dengan melakukan testing pasar melalui
strategi ?Dollar-cost averaging?. Strategi ini dilakukan dengan
menempatkan dana dalam jumlah yang sama dan dilakukan secara regular
misalkan bulanan, walau pasar sedang menurun maupun meningkat.

Bila pasar atau NAB reksadana sedang naik, maka Anda mendapatkan
jumlah unit yang sedikit. Sedangkan bila pasar atau NAB reksadana
menurun, maka Anda mendapatkan jumlah unit yang lebih besar. Dengan
pertumbuhan yang dialami dalam jangka panjang, pada akhirnya Anda
mendapatkan jumlah unit dengan harga lebih mahal dibandingkan dengan
harga belinya.

Usia 40-an dan 50-an

Bila di saat muda atau di usia 20-an sampai 30-an Anda gagal untuk
memulai investasi, waktu ini adalah waktu yang tepat bagi Anda untuk
mengejar ketinggalan. Apalagi, di batas usia ini Anda menghasilkan
jumlah dana yang lebih dari pada 10 tahun yang lalu. Akan tetapi
beberapa permasalahan timbul, seperti kebutuhan akan biaya sekolah
anak-anak Anda atau cicilan rumah yang harus Anda keluarkan setiap
bulan.

Walau ada kebutuhan keuangan yang harus Anda penuhi, sangat penting
bagi Anda di masa ini meningkat jumlah dana untuk masa-masa pensiun
nanti. Bila Anda belum mencapai jumlah dana yang cukup di usia ini,
sebaiknya Anda memulainya sekarang dan usahakan dalam jumlah yang
cukup siknifikan.

Bila Anda tidak melakukan sekarang, maka akan sangat sulit bagi Anda
untuk dapat merasakan masa-masa pensiun yang tenang jauh dari
permasalahan keuangan. Bagi mereka yang menundanya sampai masuk usia
ini, maka sebaiknya Anda mengalokasikan minimal 20 persen dari
pendapatan bersih bulanan keluarga.

Bila masa ini Anda mengabaikan untuk meningkatkan kontribusi Anda
dalam investasi untuk pensiun maka Anda akan dihadapi dengan
permasalahan serius, di mana pada saat ini waktu bukan lagi menjadi
teman Anda. Dalam masa ini hanya ada dua hal yang bisa dilakukan yaitu
meningkatkan penghasilan Anda atau terus meningkatkan kontribusi Anda
untuk masa-masa pensiun.

Pemutusan hubungan kerja bisa saja terjadi di masa-masa ini, sebaiknya
Anda mempertimbangkan dampaknya terhadap kondisi keuangan Anda. Dalam
hal ini Anda sebaiknya juga menganalisa ulang kebutuhan akan proteksi
atau dana darurat yang selama ini Anda alokasikan bagi keluarga.
Apakah proteksi atau dana yang selama ini disiapkan memang memadai
untuk kelangsungan kehidupan berkeluarga bila terjadi hal-hal yang
tidak diinginkan. Jangan sampai, semua upaya atau perencanaan yang
telah Anda lakukan hancur karena kurangnya persiapan menghadapi ?rainy
day?.

Sebaiknya investasi yang Anda lakukan tetap berada dalam reksadana
saham atau campuran. Komposisi investasi sebaiknya Anda lakukan jangan
hanya menempatkan dalam reksadana saham. memang sebagian besar
sebaiknya dialokasikan di reksadana saham walau tetap memantapkan
dalam beberapa jenis investasi yang memiliki risiko yang lebih rendah.
Tentunya Anda harus melihat dan mempertimbangkan toleransi risiko yang
bisa Anda ambil.

Usia 60-an ke Atas

Begitu Anda memasuki usia 60-an, Anda tentunya sudah memiliki
pengalaman dan pengetahuan mengenai investasi. Hal ini merupakan
sesuatu yang baik, karena Anda membutuhkan di masa pensiun nanti.
Setelah Anda menyelesaikan masa kerja Anda di perusahaan, standar
biaya kehidupan Anda ditopang oleh dana pensiun yang telah Anda
siapkan, baik itu berupa program dana pensiun atau tabungan atau
investasi yang Anda lakukan.

Apakah ini menakutkan? Tidak usah. Pikirkan bahwa ini merupakan
kesempatan bagi Anda untuk memulai sesuatu selama masa pensiun yang
Anda akan lalui. Bila Anda mengelola keuangan Anda dengan bijak selama
masa pensiun, kami yakin Anda tidak akan merasakan kesusahan keuangan
selama masa pensiun.

Untuk mencapai keinginan hidup sejahtera selama pensiun, investasi
yang Anda lakukan juga sebaiknya dalam reksadana saham atau campuran,
walau kompoisisnya saat ini akan lebih berkurang.

Kebutuhan akan biaya hidup akan selalu meningkat, dengan tetap
mengkombinasikan investasi yang memberikan potensi keuntungan yang
besar atau petumbuhan adalah solusinya.

Bila Anda pensiun di usia 65, maka Anda paling tidak masih memiliki 20
tahun untuk dijalani. Sangat sedikit individu yang mengumpukan aset
pensiun yang sangat besar, sehingga Anda dapat hidup hanya dari bunga
yang dihasilkan selama 20 tahun ke depan.

Bila Anda mengikuti program dana pensiun, pada saat ini Anda
memperoleh dana sekaligus (lump sum) yang cukup besar. Dana ini dapat
Anda alokasikan untuk investasi guna memenuhi kenaikan biaya hidup
selama masa pensiun nanti. Mengapa? Karena mungkin inilah pendapatan
yang terbesar yang bisa Anda dapatkan pada masa ini atau menjual aset
seperti rumah untuk tinggal di tempat yang lebih kecil. Dengan semakin
tingginya ekspektasi hidup sekarang ini maka mempersiapkan dana selama
masa pensiun harus dipikirkan dengan masak.

Demikianlah beberapa investasi yang bisa Anda lakukan dengan
berjalannya usia Anda. yang terpenting di sini adalah Anda memulainya
sekarang. Walau dengan keterbatasan dana yang Anda miliki, Anda dapat
mencapai nilai yang fantastis dengan waktu sebagai penolong Anda.
Sarana investasi yang Anda pilih sesuaikan dengan profil toleransi
Anda terhadap risiko. Semoga memberikan masukan kepada Anda, pembaca
setia rubrik Eureka. n

Diambil dari Harian Umum Sore Sinar Harapan Rubrik PERENCANAAN
KEUANGAN. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL)
yakni Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi
Lubis.

Tulisan ini dikutip dari:
http://www.keuangan-pribadi.com/siklus-investasi-sepanjang-usia/

Pahami Siklus Hidup Finansial Anda

Pahami Siklus Hidup Finansial Anda
Oleh: Mike Rini
Dikutip dari Danareksa.com

Pentingnya Memahami Siklus Hidup Finansial Anda

Sejalan dengan berjalannya siklus kehidupan manusia mulai dari bayi,
balita, anak-anak, remaja, dewasa, orang tua sampai tua renta, maka
berbagai pandangan dan kebutuhan finansial kita juga selalu
berubah-rubah sesuai kondisinya. Contohnya, saat seseorang berada di
usia 30-an, kemungkinan sedang sangat menikmati masa mudanya, bekerja
dengan giat dan agresif namun berkejaran dengan gaya hidup konsumtif
yang bergulat dengan tagihan kartu kredit Menjelang pensiun di usia
sekitar 50-an, seseorang biasanya sedang berusaha keras memastikan sudah
punya cukup uang untuk bisa melanjutkan hidupnya setelah tidak bekerja,
cari aman deh!

Dalam kesempatan kali ini, marilah kita pelajari beberapa kunci-kunci
keputusan finansial dalam tiap tahapan kehidupan manusia - yang saya
kira perlu kita pahami dengan seksama. Mempelajari hal ini bertujuan
untuk memudahkan pengambilan keputusan finansial, apa yang perlu kita
lakukan dan apa yang sebaiknya tidak kita lakukan berkaitan dengan uang
dari tiap tahapan kehidupan kita. Lebih dari, manfaatnya bukan sekedar
hanya untuk menambah pengetahuan kita sendiri, namun juga membantu
memahami kebutuhan dan pandangan orang lain secara finansial, sesuai
dengan usianya juga.

Karena penting sekali bagi kita untuk bisa sesekali menempatkan diri
pada posisi orang lain secara finansial. Sebab suatu keputusan keuangan
jarang sekali yang bisa berdiri sendiri, baik Anda yang masih lajang
maupun sudah menikah, atau Anda punya tanggungan atau justru Anda yang
ditanggung. Selalu saja ada pengaruh serta kepentingan orang lain
didalamnya.

Usia Sekolah Dasar sampai dengan dengan lulus Perguruan Tinggi S1 di
usia 20-an

- Pada usia 0 sampai 18 tahun, umumnya orang masih berada di bangku
sekolah pendidikan dasar dan seluruh biaya hidup ditanggung oleh orang
tua. ?Life is beautiful, with no responsibilities what so ever.. ?
kira-kira begitulah gambaran hidup seseorang pada masa kanak-kanak dan
remajanya. Hanya saja memang tidak seindah kenyataannya jika berkaitan
dengan uang. Anda tahu kan bagaimana pada jaman sekolah dulu, sulitnya
meminta uang pada orang tua. Tidak.

- Saat di Perguruan Tinggi, kebanyakan dari Anda mungkin masih di biayai
orang tua, tapi pengaruh teman-teman, mengikuti trend atau mungkian
memang terpaksa banyak juga dari Anda bahkan harus bekerja paruh waktu
mencari penghasilan tambahan untuk tambahan ongkos kuliah. Dengan
naiknya ongkos kuliah, transport dan buku-buku, memang agak sulit jika
harus mengandalkan orang tua.

Lagipula mempunyai uang sendiri, kedengaran lebih cool & gaul. Lebih
bebas menntukan pilihan dalam membelanjakan uang, juga sesekali
mentraktir orang tua dan teman bisa jadi kebanggaan tersendiri. Asalkan
bisa membagi waktu dengan jadwal kuliah yang harus segera diselesaikan,
maka bekerja paruh waktu atau berusaha mendapatkan uang sendiri sambil
kuliah tentunya bisa dilakukan. Bekerja sambil kuliah memang
memanfaatkan waktu luang dengan positif, tentunya kita sedikit banyak
bisa mempraktekkan apa yang dipelajari selama ini di sekolah,

Di usia 20-an

- Anda mungkin juga masih ingin meneruskan sekolah sebab keinginan
belajar juga masih mengebu-gebu. Beruntunglah jika orang tua bisa
membantu Anda membayar biaya pendidikan, namun kemungkinan besar orang
tua tidak bisa membantu terlalu banyak sebab jenjang pendidikan lanjutan
setelah perguruan tinggi atau pendidikan advance learning yang setara
jauh lebih mahal daripada pendidikan dasar di SD sampai SMA. Jadi untuk
membayar biaya pendidikan lanjutan kemungkinan besar harus diusahakan
sendiri. Bisa juga berusaha mendapatkan beasiswa untuk mensponsori biaya
pendidikan Anda. Lain halnya jika Anda ingin mengambil pinjaman dengan
tujuan membayar biaya pendidikan, beban biaya pendidikan akibatnya
menjadi lebih berat, sebab Anda juga membayar bunga pinjamannya. Hanya
jika Anda yakin bahwa manfaatnya jauh lebih besar daripada uang yang
dihabiskan, Maka mengeluarkan uang lebih banyak untuk melanjutkan
sekolah Anda boleh saja dilakukan. Sebaliknya, jika hanya sebagai
keinginan yang didorong mendapatkan cap prestisius tanpa usaha lebih
lanjut untuk menggantikan uang yang habis tadi, maka pendidikan mungkin
menjadi suatu hobi atau sarana rekreasi yang terlalu mahal dari segi
uang, tenaga dan waktu yang sudah dikorbankan.

- Masih ingatkah Anda saat mendapatkan gaji yang pertama? Penghasilan
Anda belum terlalu besar saat ini karena itu mulailah membangun
kebiasaan berbelanja dengan cara mengeluarkan uang sesuai dengan
anggaran yang sudah direncanakan.

- Pada masa ini biasanya orang masih malas menabung, tapi rajin belanja.
Namun seberapapun penghasilan Anda, usahakanlah untuk selalu bisa
menyisihkan uang secara rutin dari penghasilan Anda tiap bulan. Pastikan
bahwa Anda mempunyai tabungan di bank yang, dengan kondisinya yang
nyaman, fasilitas lengkap, biaya administrasi rendah dengan bunga
tabungan yang bersaing. Pisahkanlah rekening tabungan dengan rekening
gaji,

- Cobalah untuk bisa membentuk sejumlah dana cadangan, yaitu sejumlah
dana yang sengaja disisihkan untuk membiayai pengeluran mendadak yang
sifatnya darurat. Pada usia ini kebutuhan dana cadangan belum terlalu
besar sehingga cukup mencadangkan sebesar 1 kali pengeluaran Ada
perbulan. Anda bisa menempatkan rekening dana cadangan ini di rekening
tabungan

- Mulai berpikir mengenai persiapan pensiun, walaupun masih jauh
panggang dari api alias masih lama sekali Anda pensiun, tidak ada
salahnya sudah mulai mempersiapkan sejak sekarang. Tidak pernah ada kata
terlalu cepat dan terlalu dini untuk persiapan pensiun. Jika perusahaan
tempat Anda bekerja mempunyai program daan pensiun sendiri,
bergabunglah, atau Anda bsia mengikuti program pensiun Jamsostek dari
pemerintah atau belilah program dana pensiun yang ditawarkan lembaga
keuanga lain seperti bank dan perusahaan asuransi

- Jangan membeli asuransi jiwa jika Anda belum mempunyai tanggungan atau
terkecuali ada hutang yang harus dicover, namun pertimbangkanlah untuk
mengambil asuransi kesehatan jika perusahaan tempat Anda bekerja tidak
mencover biaya ini.

Di usia 30-an

- Pada saat ini Anda mungkin sudah menikah. Karena itu perlu sekali
mencover penghasilan Anda dengan asuransi jiwa apalagi jika sudah
memiliki anak. Jangan sampai keluarga yang Anda tinggalkan mengalami
derita finansial yang terlalu parah karena Anda meninggal terlalu cepat

- Dengan adanya anak, maka sudah saatnya mempersiapkan dana pendidikan
anak. Anda bisa mempersiapkan dengan cara menabung di tabungan
pendidikan, mengambil asuransi pendidikan atau ke dalam produk investasi
lain.

- Pertimbangkan juga untuk mengambil asuransi kesehatan yang lebih
lengkap seperti asuransi yang mencover risiko kecelakaan, penyakit
kritis, cacat tetap akibat kecelakaan, atau risiko-risko kesehatan lain
yang belum dicover oleh tunjangan kesehatan dari perusahaan anda

- Jangan lupa untuk mencover harta benda Anda dengan asuransi kerugian
seperti asuransi kendaraan juga asuransi kebakaran

- Pastikan bawah Anda mengambil cicilan kredit rumah atau KPR yang tidak
terlalu memberatkan Anda. Sediakanlah waktu untuk membandingkan
penawaran KPR antara bank yang satu dengan yang dan jangan malas untuk
berburu rumah idaman Anda, agar sesuai antara budget dengan keinginan.

- Jika Anda sudah mempunyai sejumlah harta, buat surat wasiat. Membuat
surat wasiat sebenarnya mudah dan tidak mahal, tapi orang belum terbiasa
sebab tidak tahu caranya. Padahal sangat penting dilakukan agar keluarga
yang ditinggal tidak berebut harta warisan, juga memudahkan berbgai
urusan administrasi bagi pasangan dan anak-anak. Sebaiknya tanyalah
kepada teman yang ahli atau seorang notaries yang sudah berpengalaman
dalam membuat surat wasiat.

- Evaluasi terus program pensiun yang sudah Anda ikuti, pastikan telah
memberikan return investasi sejumlah yang Anda harapkan.

- Jika Anda masih bergulat dengan tagihan kartu kredit, berusahalah
mengendalikan gaya hidup Anda dan secara bertahap lunasi tagihan-tagihan
hutang tersebut. Paling tidak carilah cara-cara bagaimana agar Anda bisa
membayarnya cicilan hutang ini dengan cara paling murah.

- Tambah pengetahuan dan pengalaman Anda dalam berinvestasi, bersikap
kreatif dan mulailah berinvestasi diluar produk bank. Carilah juga
investasi dengan biaya murah, setoran investasi yang fleksibel, mudah
diakses, pajak yang kecil bahkan kalau bisa bebas pajak, dan likuid.

Di usa 40-an

- Berusahalah untuk meningkatkan setoran tabungan dan investasi setiap
tahunnya terutama untuk persiapan pensiun. Pastikan setoran tabungan dan
investasi selalu naik sesuai dengan kenaikan penghasilan Anda. Setiap
kali mendapatkan rejeki lebih baik berupa bonus atau THR, sisihkanlah
terlebih dahulu untuk menambah investasi Anda.

- Evaluasi lagi jumlah Uang Pertanggungan asuransi jiwa yang Anda ambil,
apakah jumlahnya sudah sudah sesuai dengan kebutuhan untuk mengcover
risiko kehilangan penghasilan. Jika biaya hidup keluarga Anda telah
berubah, naik atau turun, maka sebaiknya jumlah uang pertanggungan
asuransi jiwanya juga disesuaikan

- Pastikan bahwa cicilan KPR Anda tetap berjalan dengan semestinya
sesuai jadwal, simpanlah segala bukti pembayaran berikut catatan saldo
terakhir dari hutang KPR Anda. Jika suku bunganya naik, dan karenanya
jumlah cicilannya menjadi terlalu berat, bisa Anda pertimbangkan untuk
memperpanjang jangka waktunya.

- Sebaliknya jika beruntung Anda memiliki sejumlah dana yang cukup
besar, bisa dipertimbangkan untuk mengadakan pelunasan KPR sebagian atau
seluruhnys dari sisa saldo KPR sekarang. Melakukan hal ini, bisa membuat
Anda menghemat pembayaran bunga KPR, dan mempercepat waktu pelunasan.

Di usia 50-an

- Disaat menjelang pensiun, ada baiknya Anda mengatahui saldo pensiun
Anda yang terakhir, sehingga bisa melakukan evaluasi dan revisi jika
dana yang terkumpul masih jauh dari target,

- Review semua investasi Anda, jika hampir semua investasi Anda berisiko
tinggi segeralah melakukan iversifikasi dan alokasikan secara
proporsinal ke investasi yang risikonya lebih rendah,

- Catat kapan cicilan KPR yang terakhir dan pastikan bahwa pembayaran
cicilan KPR sudah selesai sebelum Anda pensiun,

- Pertimbangkanlah untuk mengalami asuransi kesehatan hari tua, yang
mengcover biaya-biaya kesehatan dan rawat inap di rumah sakit yang
terjadi. Asuransi kesehatan hari tua atau longterm care insurance ini
benefitnya seharusnya bisa dinikmati pada saat pensiun sampai seumur
hidup Anda,

Di usia pensiun, 55 atau 60-an

- Inilah saatnya untuk mengajukan klaim dana pensiun dari program
pensiun yang Anda ikuti selama ini. Dana pensiun yang diikuti dari
perusahaan tempat Anda bekerja, biasanya akan memberikan seluruh total
dana pensiun secara seklaigus didepan, sehingga selanjut Anda tinggal
mengemabil sesuai dengan kebutuhan tiap bulan, dan menginvesatsikan
sisanya agar terus berkembang kedalam instrument investasi yang tidak
terelu berisiko namaun bisa memberikan pendapat tetap setara dengan
bunga.

- Jika Anda mengiktui program pensiun yang diselenggrakan Jamsostek,
segeralah mengajukan klaim kepada badan pemerintah ini. Anda bisa
mendapatkan dua pilihan, apakah bisa diambil sekaligus atau mengambilnya
secara bulanan seperti layaknya gaji. Jika Anda sempat beberapa kali
pindah kerja, namun program pensiun Jamsostek pada perusahaan sebelumnya
belum sempat Anda klaim, namun sudah terlanjur memulai yang baru, jangan
segan-segan utnuk mengajukan klaim

- Barangkali dulu pernah iseng mengikuti program pensiun yang ditawarkan
oleh bank atau perusahaan asuransi. Jangan malu untuk mengajukan klaim
hanya karena merasa uangnya tidak seberapa. Sebab sedikit atau banyak
pada masa usia ini jumlah berapapun akan sangat berarti.

- Maksimalkan seluruh aset-aset Anda menganggur untuk segera bisa
menghasilkan income untuk Anda. Misalnya jika Anda mempunyai tanah,
bangunan atau kendaaraan yang menganggur, mungkina Anda bisa
mengusahakan mendapatkan rental income dari aset-aset tersebut.

- Berhati-hatilah pada investasi yang berisiko tinggi, karakternya yang
fluktuatif kemungkinan besar kurang cocok dengan usia dan kesehatan
Anda.

- Periksa kembali surat wasiat Anda apakah sudah seperti yang Anda
inginkan, buatlah perubahan jika perlu. Pastikan bawa pasangan Anda dan
anak-anak mengetahui tentang surat wasiat tersebut,

- Pertimbangkanlah untuk menyisihkan sejumlah dana tunai untuk
mempersiapkan dana kematian bagi Anda dan pasangan. Kedengarannya memang
sangat tidak menyenangkan juga menakutan, tetapi tindakan ini akan
sangat membantu keluarga yang ditinggal walaupun tidak bisa mengurangi
kesedihan orang-orang yang mencintai Anda yang telah Anda tinggalkan

Salam
Mike Rini
Perencana Keuangan

Membangun Komunikasi Keuangan Suami-Istri

Membangun Komunikasi Keuangan Suami-Istri
Oleh: Safir Senduk
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 660/XIII

“Cinta saja tidak cukup untuk bisa menghidupi suami-istri.” Mungkin itu
adalah kata-kata yang sering Anda dengar sampai sekarang. Ya, cinta
memang tidak cukup untuk bisa menghidupi suami-istri. Perlu banyak hal
lain, salah satunya adalah uang. Tapi bila uang sudah ada, maka apakah
hal itu cukup untuk menghidupi Anda berdua dan menjamin bahwa perkawinan
Anda akan langgeng?

Jawabnya, tidak juga. Keberadaan uang tidak menjamin bahwa sepasang
suami istri akan bisa sejahtera. Anda boleh percaya boleh tidak, yang
lebih menjamin kesejahteraan keuangan antara suami dan istri, salah
satunya adalah: Komunikasi.

Komunikasi yang baik antara suami dan istri sudah pasti merupakan hal
yang sangat penting bagi terciptanya hubungan yang langgeng. Ada banyak
topik komunikasi yang terjadi pada suami-istri. Tapi salah satu topik
yang paling kritis antara suami dan istri adalah komunikasi dalam bidang
keuangan.

Sangat penting bagi suami dan istri untuk membangun saling pengertian
yang kuat dalam hal keuangan keluarga. Saya sering menghadapi klien yang
ribut dan rusak hubungannya hanya karena masalah keuangan. Dan munculnya
masalah keuangan itu, salah satunya karena tidak adanya komunikasi dan
saling pengertian dalam hal keuangan antara suami dan istri.

Tidak mudah sebetulnya membangun komunikasi dan saling pengertian yang
kuat dalam hal keuangan antara suami dan istri. Bahkan, komunikasi
itupun harus Anda bangun terus menerus sepanjang umur perkawinan Anda.
Namun demikian, bila Anda berdua sebagai suami istri memiliki komunikasi
yang baik dalam bidang keuangan, maka Anda berdua akan memiliki hubungan
perkawinan yang kuat dan langgeng. Paling tidak, perkawinan Anda tidak
akan runtuh karena masalah keuangan.

Lalu, bagaimana cara membangun komunikasi tersebut?

1. Utarakan kepada suami Anda apa pandangan Anda tentang uang, dan minta
suami Anda melakukan hal yang sama.

2. Utarakan juga apa tujuan-tujuan keuangan yang ingin Anda raih kelak,
dan minta suami Anda melakukan hal yang sama.

3. Setelah masing-masing mengetahui tujuan-tujuan keuangan pasangannya,
buat prioritas tentang tujuan keuangan mana yang sebaiknya dicapai
terlebih dahulu oleh Anda berdua.

4. Buat rencana bagaimana Anda berdua bisa sama-sama mencapai
tujuan-tujuan keuangan tersebut. Yang jelas, rencana tersebut harus
realistis dan bisa dijalankan bersama.

5. Tuliskan tindakan apa yang harus dilakukan oleh masing-masing dari
Anda berdua dalam menjalankan rencana tersebut. Misalnya, Anda akan
melakukan ini, suami Anda akan melakukan itu. Sehingga Anda berdua
menjalankan rencana keuangan ter-sebut secara bersama.

6. Diskusikan bagaimana cara terbaik bagi Anda berdua dalam mengelola
keuangan sehari-hari.

7. Tentukan siapa di antara Anda berdua yang akan membayar
tagihan-tagihan dan biaya rutin setiap bulan.

8. Tentukan berapa jumlah pengeluaran yang bisa dilakukan oleh
masing-masing dari Anda, tanpa harus bertanya terlebih dulu satu sama
lain.

9. Tentukan investasi apa yang akan Anda berdua lakukan untuk jangka
panjang.

10. Tentukan apakah Anda berdua akan menyatukan uang Anda dalam satu
rekening, atau memisahkannya dalam rekening sendiri-sendiri.

11. Menabunglah bersama-sama untuk masa depan Anda berdua kelak ketika
tidak lagi bekerja.

12. Sering-seringlah berdiskusi satu sama lain mengenai rencana yang
sudah dijalankan. Evaluasi rencana tersebut paling tidak sekali setahun
untuk melihat apakah Anda berdua masih memiliki tujuan keuangan yang
sama, dan apakah ren-cana yang sudah dijalankan selama ini memang sudah
menunjukkan kemajuan atau tidak dalam mencapai tujuan yang sudah
ditetapkan.

13. Buka terus keran komunikasi Anda berdua. Sisihkan waktu secara rutin
untuk membicarakan dan mengkomunikasikan masalah keuangan Anda berdua.

KHUSUS UNTUK SUAMI: BERITAHUKAN GAJI ANDA

Apakah Anda merupakan salah satu dari suami yang enggan memberitahukan
berapa jumlah gaji Anda kepada istri Anda? Bila ya, maka mungkin ada
beberapa hal yang bisa menjadi penyebabnya:

1. Anda gengsi. Anda mungkin tidak ingin istri Anda mengetahui bahwa
penghasilan Anda tidak besar.

2. Atau sebaliknya, Anda tidak ingin istri Anda tahu bahwa penghasilan
Anda terlalu besar.

3. Anda menganggap bahwa masalah penghasilan adalah masalah yang sangat
pribadi untuk diungkapkan, termasuk kepada istri Anda sendiri. Jadi
bukan perkara besar atau kecilnya.

Memberitahukan penghasilan Anda kepada istri Anda memang bukan salah
satu syarat yang harus dijalankan dalam membangun komunikasi keuangan
yang baik antara suami-istri. Tapi, bila suami- istri memang menjalankan
komunikasi keuangan yang baik, maka dengan sendirinya Anda akan dengan
sukarela memberi tahu berapa jumlah penghasilan yang Anda dapatkan
setiap bulannya.

Ada beberapa keuntungan kalau Anda mau memberitahukan gaji Anda kepada
istri Anda:

1. Istri Anda bisa bertambah baik dalam mengatur anggaran keluarga
karena dia tahu berapa batas yang bisa dia capai.

2. Komunikasi keuangan antar suami-istri diharapkan juga akan makin baik
karena dengan memberitahukan berapa yang Anda hasilkan, ini menunjukkan
bahwa Anda cukup terbuka. Keterbukaan adalah salah satu syarat
terjalinnya komunikasi keuangan dengan baik antara suami-istri.

My Partners